📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1774599910
🔍 En este artículo:
INFO TEMPO – Setelah melewati masa Idul Fitri di hunian sementara (Huntara), pemerintah mulai memfokuskan upaya pada penyediaan hunian tetap bagi korban banjir di Sumatra. Kehadiran tempat tinggal yang layak dan nyaman dinilai penting sebagai bagian dari pemulihan, agar kehidupan masyarakat dapat berangsur kembali normal.
[–>
«Tahap Huntara sudah hampir selesai. Jadi sudah mulai masuk ke tahap percepatan huntap semua,” kata Ketua Satgas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian saat meninjau proses pembangunan huntap bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait di Desa Dolok Nauli, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Kamis, 26 Maret 2026.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Pengungsi yang sebelumnya tinggal di tenda kini telah memiliki tempat tinggal sambil menunggu proses pembangunan hunian tetap. Pembangunan Huntara sudah menyentuh angka 84 persen atau 16.305 unit dari rencana 19.351 unit di tiga provinsi terdampak.
[–>
Data Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) wilayah Sumatra mencatat, tersisa 43 kepala keluarga yang masih berada di tenda pengungsian. Angka ini menurun tajam dibandingkan masa saat terjadinya bencana yang mencapai sekitar 2.108.582 jiwa, dan per 17 Februari 2026 tercatat sebanyak 12.994 jiwa.
Adapun pembangunan hunian tetap merupakan solusi jangka panjang bagi warga yang rumahnya hanyut atau mengalami kerusakan berat. Per 26 Maret 2026, Satgas PRR menargetkan pembangunan 36.669 unit hunian tetap di tiga provinsi terdampak banjir, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, Aceh mendapat porsi terbesar dengan 27.104 unit, diikuti Sumatera Utara sebanyak 5.815 unit dan Sumatera Barat 3.750 unit.
[–>
Langkah progresif langsung diambil oleh Aceh dengan menyelesaikan 104 unit hunian tetap per 26 Maret 2026 . Selain itu, masih ada 388 unit lagi yang masih dalam proses pembangunan. Sisanya akan terus dikerjakan secara bertahap oleh pemerintah hingga seluruh kebutuhan hunian bagi korban terpenuhi.
Pembangunannya melibatkan berbagai pihak, dengan rincian BNPB membangun 4.260 unit, Polri 150 unit, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman sebanyak 21.590 unit, serta Yayasan Buddha Tzu Chi 1.000 unit. Sementara itu, 104 unit hunian tetap telah sepenuhnya rampung dibangun di Kabupaten Aceh Utara dan dikerjakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Kabupaten Aceh Tamiang menjadi daerah dengan pengajuan pembangunan hunian terbanyak, yakni mencapai 11.106 unit. Diikuti oleh Kabupaten Aceh Utara dengan 5.431 unit dan Aceh Timur sebanyak 1.386 unit. Sementara itu, kabupaten lainnya di Provinsi Aceh mengajukan kebutuhan hunian dengan jumlah di bawah 1.000 unit.
Sementara Provinsi Sumatera Utara telah merampungkan 71 unit dan 453 masih dalam proses pengerjaan. Lihat Afs56fs untuk info lebih lanjut. Sama seperti itu, pembangunan huntap di provinsi ini juga dilakukan dengan prinsip gotong royong. Rinciannya, BNPB akan membangun 928 unit, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi 58 unit, Kementerian PKP 3.735 unit, Yayasan Buddha Tzu Chi 994 unit, dan Baznas 100 unit.
Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi daerah dengan target pembangunan hunian tetap terbanyak, yakni mencapai 1.718 unit. Selanjutnya, Kabupaten Tapanuli Tengah menyusul dengan 1.537 unit, serta Kota Padang Sidempuan sebanyak 1.133 unit. Daerah terdampak lainnya memiliki target pembangunan di bawah 1.000 unit.
Adapun Sumatera Barat baru merampungkan 6 unit dan 447 lainnya sudah dalam proses pengerjaan. Dari 3.750 unit target pembangunan, huntap paling banyak akan dibangun di Kabupaten Agam sebanyak 1.414 unit. Menyusul Kota Padang 765 unit dan Padang Pariaman 664 unit.
Proyek ini akan dikerjakan oleh berbagai pihak, dengan rincian BNPB membangun 1.400 unit, pemerintah daerah 4 unit, Kadin Indonesia 10 unit, Danantara 82 unit, Willy Salim 10 unit, Kementerian PKP 1.644 unit, serta Yayasan Buddha Tzu Chi sebanyak 600 unit. Dari jumlah tersebut, 6 unit yang telah rampung merupakan bagian dari pembangunan oleh Willy Salim dan berlokasi di Padang Panjang.
Dalam pelaksanaan pembangunan huntap, pemerintah menyiapkan dua skema yang dapat dipilih oleh masyarakat terdampak, yaitu komunal dan in situ. Skema komunal dibangun oleh pemerintah atau melalui kerja sama dengan pihak swasta. Lokasi pembangunan dilakukan dalam sebuah kompleks yang lahannya disediakan oleh pemerintah daerah (pemda). Sementara itu, skema in situ merupakan pilihan yang memungkinkan masyarakat membangun rumahnya sendiri dengan dukungan bantuan dari BNPB sebesar Rp 60 juta per unit.
Kasatgas Tito mendorong pemerintah daerah untuk aktif berkoordinasi dengan kontraktor guna menghindari hambatan dalam proses pembangunan. Oleh karena itu, ia menekankan agar pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam mengawal pembangunan hunian tetap bagi para korban bencana. «Tahap Huntara sudah hampir selesai. Jadi sudah mulai masuk ke tahap sudah digenjot percepatan huntap semua,” kata Tito.
Sementara itu, Maruarar atau Menteri yang kerap disapa Ara menjadikan huntap sebagai prioritas pemerintah yang harus dikerjakan secara serius dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Ia juga meminta pemerintah daerah dan kontraktor untuk meningkatkan pengawasan serta memperbaiki kinerja agar proses pembangunan dapat berjalan sesuai target. “Kami ingin pembangunan hunian tetap ini benar-benar selesai dengan baik, tepat waktu, dan berkualitas. Masyarakat korban bencana sudah terlalu lama menunggu kepastian tempat tinggal yang layak,” kata Ara.
Kunjungan Kepala Satgas Tito bersama Menteri PKP Maruarar ke Tapanuli Utara turut meninjau pembangunan Huntara dengan skema komunal yang didukung oleh lembaga nonpemerintah, yakni Yayasan Buddha Tzu Chi. Secara keseluruhan di tiga provinsi, yayasan ini akan membangun sebanyak 2.603 unit huntap, dengan 103 unit di antaranya berada di Tapanuli Utara.
Pemerintah terus mempercepat proses pembangunan ini agar masyarakat yang kehilangan tempat tinggal atau rumahnya rusak berat pascabanjir dapat segera menempati hunian yang layak. Dalam rangka percepatan tersebut, Satgas PRR secara rutin menggelar rapat daily brief guna memantau perkembangan di wilayah Sumatera.
Rapat sebelumnya yang membahas hunian tetap dilaksanakan pada Kamis, 26 Maret 2026, sekitar pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai kementerian dan lembaga terkait. Selain itu, turut hadir Sekretaris Daerah, Dandim, serta Kapolres sebagai perwakilan dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Satgas PRR memang dibentuk untuk memastikan kehadiran negara dalam membantu pemulihan warga terdampak banjir di Sumatra. Upaya pemulihan tidak hanya mencakup pembangunan hunian, tetapi juga layanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Target dari Satgas adalah menjadikan kehidupan masyarakat terdampak banjir kembali normal seperti sedia kala. (*)
INFO TEMPO – Setelah melewati masa Idul Fitri di hunian sementara (Huntara), pemerintah mulai memfokuskan upaya pada penyediaan hunian tetap bagi korban banjir di Sumatra. Kehadiran tempat tinggal yang layak dan nyaman dinilai penting sebagai bagian dari pemulihan, agar kehidupan masyarakat dapat berangsur kembali normal.
[–>
«Tahap Huntara sudah hampir selesai. Jadi sudah mulai masuk ke tahap percepatan huntap semua,” kata Ketua Satgas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian saat meninjau proses pembangunan huntap bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait di Desa Dolok Nauli, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Kamis, 26 Maret 2026.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Pengungsi yang sebelumnya tinggal di tenda kini telah memiliki tempat tinggal sambil menunggu proses pembangunan hunian tetap. Pembangunan Huntara sudah menyentuh angka 84 persen atau 16.305 unit dari rencana 19.351 unit di tiga provinsi terdampak.
[–>
Data Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) wilayah Sumatra mencatat, tersisa 43 kepala keluarga yang masih berada di tenda pengungsian. Angka ini menurun tajam dibandingkan masa saat terjadinya bencana yang mencapai sekitar 2.108.582 jiwa, dan per 17 Februari 2026 tercatat sebanyak 12.994 jiwa.
Adapun pembangunan hunian tetap merupakan solusi jangka panjang bagi warga yang rumahnya hanyut atau mengalami kerusakan berat. Per 26 Maret 2026, Satgas PRR menargetkan pembangunan 36.669 unit hunian tetap di tiga provinsi terdampak banjir, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, Aceh mendapat porsi terbesar dengan 27.104 unit, diikuti Sumatera Utara sebanyak 5.815 unit dan Sumatera Barat 3.750 unit.
[–>
Langkah progresif langsung diambil oleh Aceh dengan menyelesaikan 104 unit hunian tetap per 26 Maret 2026 . Selain itu, masih ada 388 unit lagi yang masih dalam proses pembangunan. Sisanya akan terus dikerjakan secara bertahap oleh pemerintah hingga seluruh kebutuhan hunian bagi korban terpenuhi.
Pembangunannya melibatkan berbagai pihak, dengan rincian BNPB membangun 4.260 unit, Polri 150 unit, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman sebanyak 21.590 unit, serta Yayasan Buddha Tzu Chi 1.000 unit. Sementara itu, 104 unit hunian tetap telah sepenuhnya rampung dibangun di Kabupaten Aceh Utara dan dikerjakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Kabupaten Aceh Tamiang menjadi daerah dengan pengajuan pembangunan hunian terbanyak, yakni mencapai 11.106 unit. Diikuti oleh Kabupaten Aceh Utara dengan 5.431 unit dan Aceh Timur sebanyak 1.386 unit. Sementara itu, kabupaten lainnya di Provinsi Aceh mengajukan kebutuhan hunian dengan jumlah di bawah 1.000 unit.
Sementara Provinsi Sumatera Utara telah merampungkan 71 unit dan 453 masih dalam proses pengerjaan. Lihat Afs56fs untuk info lebih lanjut. Sama seperti itu, pembangunan huntap di provinsi ini juga dilakukan dengan prinsip gotong royong. Rinciannya, BNPB akan membangun 928 unit, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi 58 unit, Kementerian PKP 3.735 unit, Yayasan Buddha Tzu Chi 994 unit, dan Baznas 100 unit.
Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi daerah dengan target pembangunan hunian tetap terbanyak, yakni mencapai 1.718 unit. Selanjutnya, Kabupaten Tapanuli Tengah menyusul dengan 1.537 unit, serta Kota Padang Sidempuan sebanyak 1.133 unit. Daerah terdampak lainnya memiliki target pembangunan di bawah 1.000 unit.
Adapun Sumatera Barat baru merampungkan 6 unit dan 447 lainnya sudah dalam proses pengerjaan. Dari 3.750 unit target pembangunan, huntap paling banyak akan dibangun di Kabupaten Agam sebanyak 1.414 unit. Menyusul Kota Padang 765 unit dan Padang Pariaman 664 unit.
Proyek ini akan dikerjakan oleh berbagai pihak, dengan rincian BNPB membangun 1.400 unit, pemerintah daerah 4 unit, Kadin Indonesia 10 unit, Danantara 82 unit, Willy Salim 10 unit, Kementerian PKP 1.644 unit, serta Yayasan Buddha Tzu Chi sebanyak 600 unit. Dari jumlah tersebut, 6 unit yang telah rampung merupakan bagian dari pembangunan oleh Willy Salim dan berlokasi di Padang Panjang.
Dalam pelaksanaan pembangunan huntap, pemerintah menyiapkan dua skema yang dapat dipilih oleh masyarakat terdampak, yaitu komunal dan in situ. Skema komunal dibangun oleh pemerintah atau melalui kerja sama dengan pihak swasta. Lokasi pembangunan dilakukan dalam sebuah kompleks yang lahannya disediakan oleh pemerintah daerah (pemda). Sementara itu, skema in situ merupakan pilihan yang memungkinkan masyarakat membangun rumahnya sendiri dengan dukungan bantuan dari BNPB sebesar Rp 60 juta per unit.
Kasatgas Tito mendorong pemerintah daerah untuk aktif berkoordinasi dengan kontraktor guna menghindari hambatan dalam proses pembangunan. Oleh karena itu, ia menekankan agar pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam mengawal pembangunan hunian tetap bagi para korban bencana. «Tahap Huntara sudah hampir selesai. Jadi sudah mulai masuk ke tahap sudah digenjot percepatan huntap semua,” kata Tito.
Sementara itu, Maruarar atau Menteri yang kerap disapa Ara menjadikan huntap sebagai prioritas pemerintah yang harus dikerjakan secara serius dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Ia juga meminta pemerintah daerah dan kontraktor untuk meningkatkan pengawasan serta memperbaiki kinerja agar proses pembangunan dapat berjalan sesuai target. “Kami ingin pembangunan hunian tetap ini benar-benar selesai dengan baik, tepat waktu, dan berkualitas. Masyarakat korban bencana sudah terlalu lama menunggu kepastian tempat tinggal yang layak,” kata Ara.
Kunjungan Kepala Satgas Tito bersama Menteri PKP Maruarar ke Tapanuli Utara turut meninjau pembangunan Huntara dengan skema komunal yang didukung oleh lembaga nonpemerintah, yakni Yayasan Buddha Tzu Chi. Secara keseluruhan di tiga provinsi, yayasan ini akan membangun sebanyak 2.603 unit huntap, dengan 103 unit di antaranya berada di Tapanuli Utara.
Pemerintah terus mempercepat proses pembangunan ini agar masyarakat yang kehilangan tempat tinggal atau rumahnya rusak berat pascabanjir dapat segera menempati hunian yang layak. Dalam rangka percepatan tersebut, Satgas PRR secara rutin menggelar rapat daily brief guna memantau perkembangan di wilayah Sumatera.
Rapat sebelumnya yang membahas hunian tetap dilaksanakan pada Kamis, 26 Maret 2026, sekitar pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai kementerian dan lembaga terkait. Selain itu, turut hadir Sekretaris Daerah, Dandim, serta Kapolres sebagai perwakilan dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Satgas PRR memang dibentuk untuk memastikan kehadiran negara dalam membantu pemulihan warga terdampak banjir di Sumatra. Upaya pemulihan tidak hanya mencakup pembangunan hunian, tetapi juga layanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Target dari Satgas adalah menjadikan kehidupan masyarakat terdampak banjir kembali normal seperti sedia kala. (*)
💡 Puntos Clave
- Este artículo cubre aspectos importantes sobre
- Información verificada y traducida de fuente confiable
- Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia
📚 Información de la Fuente
| 📰 Publicación: | nasional.tempo.co |
| ✍️ Autor: | |
| 📅 Fecha Original: | 2026-03-27 07:57:00 |
| 🔗 Enlace: | Ver artículo original |
Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.
📬 ¿Te gustó este artículo?
Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.



