📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1779191859
🔍 En este artículo:
PRESIDEN Prabowo Subianto menyerahkan alat utama sistem persenjataan atau alutsista yang baru dibeli pemerintah ke Tentara Nasional Indonesia di Base Ops Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Senin, 18 Mei 2026.
[–>
Sebelum acara penyerahan, Prabowo meninjau sejumlah alutsista yang dipamerkan di Lanud Halim bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Mohamad Tonny Harjono.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Sejumlah alutsista yang diserahkan ke TNI di antaranya enam pesawat Multi Role Combat Aircraft (MRCA) Rafale produksi Dassault Aviation; empat pesawat Falcon 8X produksi Dassault; satu pesawat Airbus A400M Multi Role Tanker Transport (MRTT); dan radar Ground Control Intervention (GCI) GM403; serta sistem persenjataan Hammer smart weapon dan missile atau rudal meteor. Adapun, Indonesia sebelumnya telah menerima dua pesawat Falcon 8X dan satu pesawat Airbus A400M.
[–>
Lalu apa saja spesifikasi dan kemampuan alutsista tersebut?
1. Pesawat Tempur Rafale
Dassault Rafale merupakan pesawat tempur generasi 4,5 buatan Dassault Aviation. Mengutip dari laman Dassault Aviation, dari segi desain Dassault Rafale memiliki dimensi setinggi 5,30 meter, bodi sepanjang 15,30 meter, dan panjang sayap 10,90 meter. Sementara bobot lepas landasnya hingga 24,5 ton.
Jet tempur ini memiliki kemampuan tempur dengan radius jarak hingga 1.850 kilometer dan jelajah seluas 3.700 kilometer berkat dua unit mesin Snecma M88. Mesin ini membuat Dassault Rafale generasi 4,5 mampu melesat hingga 1,8 mach atau 1.912 kilometer per jam dengan ketinggian puncak, dan ketinggian rendah 1,1 mach atau 1.390 kilometer per jam.
[–>
Sayap Dassault Rafale didesain berbentuk delta dan dipadukan dengan kanard (konfigurasi kerangka pesawat dari pesawat bersayap tetap di mana permukaan kanard depan lebih kecil dari sayap belakang utama). Desain ini untuk memaksimalkan kestabilan terbang ketika Dassault Rafale melakukan manuver hingga lebih dari 9G atau minus 3G. Desain kanard pada jet tempur ini juga ditujukan mengurangi laju pendaratan hingga 115 knot.
Manuver 9G sendiri merupakan tekanan ke pilot yang muncul dari adanya manuver ekstrem berkecepatan tinggi. Istilah tersebut kerap disebut khususnya di dunia penerbangan militer yang berkaitan dengan jet tempur. Dalam keadaan darurat, Dassault Rafale generasi 4,5 mampu melakukan manuver hingga 11 g.
Dassault Rafale generasi 4,5 mengaplikasikan sejumlah sistem sensor pasif untuk menambah kemampuan supremasi udara, seperti sistem optik-elektro Optronique Secteur Frontal (OSF) yang terintegrasi dengan pesawat. OSF tersebut memiliki kemampuan mendeteksi serta mengidentifikasi target yang ada di udara. Dassault Rafale generasi 4,5 juga dipasangi modular avionik terintegrasi (IMA) untuk mendukung penerbangan yang menyajikan analisis data seluruh sistem sensor di pesawat.
Sedangkan dari segi perlengkapan senjata, Dassault Rafale generasi 4,5 menggendong rudal udara Advanced Short Range Air-to-Air Missile (ASRAAM) dan Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile , atau AMRAAM, rudal darat Apache, serta rudal anti kapal Exocet/AM39, High-speed Anti-Radiation Missile (HARM), Air Launched Anti-Radiation Missile (ALARM), Maverick, AS30L, Penguin 3, Sidewinder, Harpoon dan peluru kendali Missile d’Interception de Combat et d’Autodéfense (MICA).
Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap jet tempur lainnya, pabrikan menyematkan Thales RBE2 jenis passive electronically scanned array (PESA). Sistem ini mampu mendeteksi dan melacak dengan cepat berbagai target dalam pertempuran jarak dekat. Tak hanya Thales RBE2 jenis PESA, Dassault Rafale generasi 4,5 juga dilengkapi RBE2 AA jenis active electronically scanned array atau AESA. Perangkat ini diklaim andal dalam mendeteksi musuh karena mampu mendeteksi objek dengan jarak 200 kilometer. Untuk sistem pertahanan, Dassault Rafale generasi 4,5 menggunakan sistem Self-Protection Equipment to Counter Threats for RAFALE Aircraft (SPECTRA). Sistem ini mampu melindungi pesawat dari serangan darat maupun udara.
2. Rudal Meteor MBDA
Rudal Meteor adalah rudal udara-ke-udara hasil kolaborasi konsorsium Eropa yang dipimpin oleh perusahaan pertahanan multinasional MBDA. Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, dan Swedia merupakan bagian dari kolaborasi tersebut.
Dikutip dari halaman MBD, Meteor dilengkapi dengan sistem propulsi ramjet, menggunakan roket berbahan bakar padat dengan aliran bervariasi (variable flow, ducted rocket) yang diproduksi di Jerman oleh Bayern-Chemie, anak perusahaan MBDA. Motor ‘ramjet’ ini memberikan dorongan (thrust) pada rudal sepanjang jalurnya hingga mencegat target, memberikannya Zona Mustahil Lolos atau No Escape Zone yang lebih besar daripada banyak rudal udara-ke-udara lainnya.
Pesawat tempur dari berbagai negara di dunia telah dilengkapi dengan Meteor, termasuk Typhoon, Rafale, Gripen, dan KF-21 Boramae. Pada tahun 2025, integrasi METEOR ke jet tempur F-35 mengalami kemajuan dengan penerbangan pertama pada F-35B, serta uji darat sebelum penerbangan pertama pada F-35A.
Pada November 2025, Angkatan Udara Brasil berhasil uji coba penembakan Meteor dari jet tempur F-39E Gripen E mereka.
Berdasarkan spesifikasi yang tercantum dalam laman resmi MBDA, Meteor memiliki berat 190 kilogram, panjang 3,7 meter, dan diameter 178 milimeter.
Rudal ini dipakai untuk keunggulan udara atay Air Dominance) dan rudal udara-ke-udara jarak jauh.
Berbagai pesawat tempur yang memakai rudal ini antara lain Eurofighter Typhoon, F-35 Lightning II, Gripen (termasuk varian F-39 Brasil), Rafale, dan KF-21 Boramae.
Fitur dan Keunggulan utama yang dimiliki Meteor adalah sistem propulsi ramjet: Memberikan No Escape Zone (Zona Mustahil Lolos) terbesar di kelasnya, beberapa kali lipat lebih besar dibandingkan rudal udara-ke-udara jarak menengah konvensional. Ini dikarenakan mesin Meteor terus mendorong rudal hingga menghantam sasaran.
Selain itu, Meteor menggunakan hulu ledak fragmentasi untuk memastikan tingkat fatalitas dan kehancuran maksimum pada target.
Meteor juga memiliki ketahanan elektronik tinggi. Rudal ini tetap efektif dan optimal di lingkungan peperangan elektronik (electronic warfare) atau gangguan (jamming).
3. Rudal AASM Hammer
Armement Air-Sol Modulaire (AASM) atau Modular Air-to-Ground Armament Hammer adalah rudal udara-ke-darat pabrikan Safran Electronics & Defense.
Berdasarkan halaman resmi Safran, AASM Hammer memiliki jangkauan lebih dari 70 km dengan muatan yang feksibel. Artinya, rudal ini bisa memakai hulu ledak bervariasi dari 125 kg, 250 kg, 500 kg, dan 1.000 kg.
Hammer memiliki tiga jenis sistem pemandu. Sistem ini bersifat modular dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan taktis angkatan udara melalui tiga opsi kombinasi pemandu, yakni INS/GPS, INS/GPS/IR (Infrared), dan INS/GPS/Laser.
Adapun fitur utama yang dimiliki Hammer adalah kemampuan Fire & Forget, yakni rudal ini dapat dilepaskan secara mandiri menuju target setelah diluncurkan. Kemudian, Hammer juga memiliki fitur Anti-Jamming. Sistem senjata ini bersifat otonom dan tidak sensitif terhadap lingkungan yang mengalami gangguan sinyal satelit (GNSS denied environments atau jamming).
Hammer juga bisa diluncurkan dengan ketinggian yang fleksibel. Rudal ini dapat diluncurkan dari ketinggian rendah (low altitude) maupun di atas medan yang bergelombang atau kasar (rough terrain).
Selain itu, Hammer juga mendukung peluncuran dari jarak aman (stand-off range) dan mampu menyerang beberapa target sekaligus secara bersamaan.
Dalam konteks spesifikasi misi, Hammer dirancang untuk misi dukungan udara jarak dekat (Close Air Support), serta misi serangan jauh ke dalam wilayah musuh (deep strike missions). Senjata ini juga sudah terintegrasi dan kompatibel pada pesawat tempur Dassault Rafale.
4. Pesawat Falcon 8X Dassault Aviation
Dassault Falcon 8X adalah jet bisnis jarak jauh bermesin tiga atau trijet buatan Dassault Aviation Prancis. Dikutip dari halaman resmi Dassault Aviation, Falcon 8X menawarkan performa jangkauan terbang maksimum hingga 6.450 mil laut (11.945 km) dan kecepatan hingga mencapai Mach 0.90.
Pesawat ini mampu mengangkut 12 hingga 16 penumpang dan ditenagai oleh tiga mesin Pratt & Whitney Canada PW307D. Masing-masing mesin menghasilkan daya dorong sebesar 29,90 kilonewton. Dengan performa mesin tersebut, Falcon 8X mampu terbang hingga ketinggian maksimum 15.545 meter, serta memiliki kemampuan lepas landas yang efisien pada jarak 1.792 meter dan jarak pendaratan yang pendek, yaitu 677 meter, berkat kecepatan pendekatan yang rendah sebesar 198 kilometer per jam.
Dari sisi navigasi, jet ini dilengkapi dengan dek penerbangan canggih EASy IV yang didukung oleh sistem penglihatan gabungan FalconEye®.
Dari segi dimensi, Falcon 8X memiliki ukuran eksternal dengan panjang pesawat 24,46 meter, tinggi 7,94 meter, dan rentang sayap sepanjang 26,29 meter yang mendukung efisiensi aerodinamis tinggi. Fleksibilitas operasionalnya ditopang oleh spesifikasi bobot yang kokoh, dengan berat maksimum lepas landas mencapai 33.113 kilogram dan kapasitas bahan bakar maksimal sebesar 15.940 kilogram.
Interior pesawat menawarkan kabin dengan panjang 13 meter, lebar 2,34 meter, dan tinggi 1,88 meter, serta ruang bagasi sebesar 4 meter kubik. Kabin ini tidak hanya luas secara volume, tetapi juga terkenal sebagai salah satu yang paling senyap di kelasnya dengan sistem sirkulasi udara mutakhir.
5. Airbus A400M/MRTT
Airbus A400M/MRTT merupakan pesawat angkut militer yang dapat beroperasi pada berbagai kondisi dan mampu beroperasi di landasan tidak beraspal maupun lapangan udara semi-permanen.
Dikutip dari laman Sekretariat Presiden, pesawat ini memiliki kemampuan sebagai pesawat multi role tanker transport (MRTT) untuk melakukan pengisian bahan bakar udara ke udara (air-to-air refuelling) dengan pesawat tempur. Dengan kapasitas angkut hingga 37 ton, pesawat ini mampu melakukan penerbangan dengan daya jelajah selama 8 jam tanpa melakukan pengisian bahan bakar.
Selain itu, pesawat Airbus A400M/MRTT memiliki sistem terintegrasi canggih yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran situasional dan kinerja dalam setiap penerbangan.
6. Radar Ground Control Intercept (GCI) GM403
Radar Ground Master 403 (GM-403) adalah bagian dari keluarga radar 3D jarak jauh Ground Master 400 yang diproduksi oleh Thales Prancis. Radar sistem pertahanan udara ini dirancang khusus untuk kebutuhan Ground Control Interception (GCI) dengan fokus utama pada mobilitas tinggi dan kemampuan deteksi target udara yang sangat presisi.
Dikutip dari Antara, radar CGI GM-403 merupakan sistem radar pertahanan udara canggih dengan sistem digital penuh yang memiliki kemampuan deteksi jarak jauh hingga 470 kilometer. Radar ini mampu memantau target pada ketinggian 30.500 meter. Dirancang untuk menghadapi spektrum ancaman modern, radar ini mampu mendeteksi berbagai objek udara dari jarak sangat jauh, mulai dari pesawat tempur bermanuver tinggi, rudal jelajah, helikopter, hingga pesawat tanpa awak (UAV).
Selain kemampuan deteksinya yang presisi, GM-403 diunggulkan karena faktor mobilitasnya yang tinggi menghindar dari serangan balik musuh. Seluruh komponen sistem radar ini dikemas secara ringkas ke dalam satu kontainer ISO berukuran 6,1 meter, sehingga sangat taktis untuk dipindahkan.
Sistem ini juga tergolong sangat efisien dan cepat untuk dioperasikan, yakni hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit dan minimal 4 personel untuk membuat radar ini siap beroperasi penuh di lokasi baru.
Ervana Trikarinaputri dan Hendrik Khoirul Muhid berkontribusi dalam penulisan artikel ini
PRESIDEN Prabowo Subianto menyerahkan alat utama sistem persenjataan atau alutsista yang baru dibeli pemerintah ke Tentara Nasional Indonesia di Base Ops Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Senin, 18 Mei 2026.
[–>
Sebelum acara penyerahan, Prabowo meninjau sejumlah alutsista yang dipamerkan di Lanud Halim bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Mohamad Tonny Harjono.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Sejumlah alutsista yang diserahkan ke TNI di antaranya enam pesawat Multi Role Combat Aircraft (MRCA) Rafale produksi Dassault Aviation; empat pesawat Falcon 8X produksi Dassault; satu pesawat Airbus A400M Multi Role Tanker Transport (MRTT); dan radar Ground Control Intervention (GCI) GM403; serta sistem persenjataan Hammer smart weapon dan missile atau rudal meteor. Adapun, Indonesia sebelumnya telah menerima dua pesawat Falcon 8X dan satu pesawat Airbus A400M.
[–>
Lalu apa saja spesifikasi dan kemampuan alutsista tersebut?
1. Pesawat Tempur Rafale
Dassault Rafale merupakan pesawat tempur generasi 4,5 buatan Dassault Aviation. Mengutip dari laman Dassault Aviation, dari segi desain Dassault Rafale memiliki dimensi setinggi 5,30 meter, bodi sepanjang 15,30 meter, dan panjang sayap 10,90 meter. Sementara bobot lepas landasnya hingga 24,5 ton.
Jet tempur ini memiliki kemampuan tempur dengan radius jarak hingga 1.850 kilometer dan jelajah seluas 3.700 kilometer berkat dua unit mesin Snecma M88. Mesin ini membuat Dassault Rafale generasi 4,5 mampu melesat hingga 1,8 mach atau 1.912 kilometer per jam dengan ketinggian puncak, dan ketinggian rendah 1,1 mach atau 1.390 kilometer per jam.
[–>
Sayap Dassault Rafale didesain berbentuk delta dan dipadukan dengan kanard (konfigurasi kerangka pesawat dari pesawat bersayap tetap di mana permukaan kanard depan lebih kecil dari sayap belakang utama). Desain ini untuk memaksimalkan kestabilan terbang ketika Dassault Rafale melakukan manuver hingga lebih dari 9G atau minus 3G. Desain kanard pada jet tempur ini juga ditujukan mengurangi laju pendaratan hingga 115 knot.
Manuver 9G sendiri merupakan tekanan ke pilot yang muncul dari adanya manuver ekstrem berkecepatan tinggi. Istilah tersebut kerap disebut khususnya di dunia penerbangan militer yang berkaitan dengan jet tempur. Dalam keadaan darurat, Dassault Rafale generasi 4,5 mampu melakukan manuver hingga 11 g.
Dassault Rafale generasi 4,5 mengaplikasikan sejumlah sistem sensor pasif untuk menambah kemampuan supremasi udara, seperti sistem optik-elektro Optronique Secteur Frontal (OSF) yang terintegrasi dengan pesawat. OSF tersebut memiliki kemampuan mendeteksi serta mengidentifikasi target yang ada di udara. Dassault Rafale generasi 4,5 juga dipasangi modular avionik terintegrasi (IMA) untuk mendukung penerbangan yang menyajikan analisis data seluruh sistem sensor di pesawat.
Sedangkan dari segi perlengkapan senjata, Dassault Rafale generasi 4,5 menggendong rudal udara Advanced Short Range Air-to-Air Missile (ASRAAM) dan Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile , atau AMRAAM, rudal darat Apache, serta rudal anti kapal Exocet/AM39, High-speed Anti-Radiation Missile (HARM), Air Launched Anti-Radiation Missile (ALARM), Maverick, AS30L, Penguin 3, Sidewinder, Harpoon dan peluru kendali Missile d’Interception de Combat et d’Autodéfense (MICA).
Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap jet tempur lainnya, pabrikan menyematkan Thales RBE2 jenis passive electronically scanned array (PESA). Sistem ini mampu mendeteksi dan melacak dengan cepat berbagai target dalam pertempuran jarak dekat. Tak hanya Thales RBE2 jenis PESA, Dassault Rafale generasi 4,5 juga dilengkapi RBE2 AA jenis active electronically scanned array atau AESA. Perangkat ini diklaim andal dalam mendeteksi musuh karena mampu mendeteksi objek dengan jarak 200 kilometer. Untuk sistem pertahanan, Dassault Rafale generasi 4,5 menggunakan sistem Self-Protection Equipment to Counter Threats for RAFALE Aircraft (SPECTRA). Sistem ini mampu melindungi pesawat dari serangan darat maupun udara.
2. Rudal Meteor MBDA
Rudal Meteor adalah rudal udara-ke-udara hasil kolaborasi konsorsium Eropa yang dipimpin oleh perusahaan pertahanan multinasional MBDA. Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, dan Swedia merupakan bagian dari kolaborasi tersebut.
Dikutip dari halaman MBD, Meteor dilengkapi dengan sistem propulsi ramjet, menggunakan roket berbahan bakar padat dengan aliran bervariasi (variable flow, ducted rocket) yang diproduksi di Jerman oleh Bayern-Chemie, anak perusahaan MBDA. Motor ‘ramjet’ ini memberikan dorongan (thrust) pada rudal sepanjang jalurnya hingga mencegat target, memberikannya Zona Mustahil Lolos atau No Escape Zone yang lebih besar daripada banyak rudal udara-ke-udara lainnya.
Pesawat tempur dari berbagai negara di dunia telah dilengkapi dengan Meteor, termasuk Typhoon, Rafale, Gripen, dan KF-21 Boramae. Pada tahun 2025, integrasi METEOR ke jet tempur F-35 mengalami kemajuan dengan penerbangan pertama pada F-35B, serta uji darat sebelum penerbangan pertama pada F-35A.
Pada November 2025, Angkatan Udara Brasil berhasil uji coba penembakan Meteor dari jet tempur F-39E Gripen E mereka.
Berdasarkan spesifikasi yang tercantum dalam laman resmi MBDA, Meteor memiliki berat 190 kilogram, panjang 3,7 meter, dan diameter 178 milimeter.
Rudal ini dipakai untuk keunggulan udara atay Air Dominance) dan rudal udara-ke-udara jarak jauh.
Berbagai pesawat tempur yang memakai rudal ini antara lain Eurofighter Typhoon, F-35 Lightning II, Gripen (termasuk varian F-39 Brasil), Rafale, dan KF-21 Boramae.
Fitur dan Keunggulan utama yang dimiliki Meteor adalah sistem propulsi ramjet: Memberikan No Escape Zone (Zona Mustahil Lolos) terbesar di kelasnya, beberapa kali lipat lebih besar dibandingkan rudal udara-ke-udara jarak menengah konvensional. Ini dikarenakan mesin Meteor terus mendorong rudal hingga menghantam sasaran.
Selain itu, Meteor menggunakan hulu ledak fragmentasi untuk memastikan tingkat fatalitas dan kehancuran maksimum pada target.
Meteor juga memiliki ketahanan elektronik tinggi. Rudal ini tetap efektif dan optimal di lingkungan peperangan elektronik (electronic warfare) atau gangguan (jamming).
3. Rudal AASM Hammer
Armement Air-Sol Modulaire (AASM) atau Modular Air-to-Ground Armament Hammer adalah rudal udara-ke-darat pabrikan Safran Electronics & Defense.
Berdasarkan halaman resmi Safran, AASM Hammer memiliki jangkauan lebih dari 70 km dengan muatan yang feksibel. Artinya, rudal ini bisa memakai hulu ledak bervariasi dari 125 kg, 250 kg, 500 kg, dan 1.000 kg.
Hammer memiliki tiga jenis sistem pemandu. Sistem ini bersifat modular dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan taktis angkatan udara melalui tiga opsi kombinasi pemandu, yakni INS/GPS, INS/GPS/IR (Infrared), dan INS/GPS/Laser.
Adapun fitur utama yang dimiliki Hammer adalah kemampuan Fire & Forget, yakni rudal ini dapat dilepaskan secara mandiri menuju target setelah diluncurkan. Kemudian, Hammer juga memiliki fitur Anti-Jamming. Sistem senjata ini bersifat otonom dan tidak sensitif terhadap lingkungan yang mengalami gangguan sinyal satelit (GNSS denied environments atau jamming).
Hammer juga bisa diluncurkan dengan ketinggian yang fleksibel. Rudal ini dapat diluncurkan dari ketinggian rendah (low altitude) maupun di atas medan yang bergelombang atau kasar (rough terrain).
Selain itu, Hammer juga mendukung peluncuran dari jarak aman (stand-off range) dan mampu menyerang beberapa target sekaligus secara bersamaan.
Dalam konteks spesifikasi misi, Hammer dirancang untuk misi dukungan udara jarak dekat (Close Air Support), serta misi serangan jauh ke dalam wilayah musuh (deep strike missions). Senjata ini juga sudah terintegrasi dan kompatibel pada pesawat tempur Dassault Rafale.
4. Pesawat Falcon 8X Dassault Aviation
Dassault Falcon 8X adalah jet bisnis jarak jauh bermesin tiga atau trijet buatan Dassault Aviation Prancis. Dikutip dari halaman resmi Dassault Aviation, Falcon 8X menawarkan performa jangkauan terbang maksimum hingga 6.450 mil laut (11.945 km) dan kecepatan hingga mencapai Mach 0.90.
Pesawat ini mampu mengangkut 12 hingga 16 penumpang dan ditenagai oleh tiga mesin Pratt & Whitney Canada PW307D. Masing-masing mesin menghasilkan daya dorong sebesar 29,90 kilonewton. Dengan performa mesin tersebut, Falcon 8X mampu terbang hingga ketinggian maksimum 15.545 meter, serta memiliki kemampuan lepas landas yang efisien pada jarak 1.792 meter dan jarak pendaratan yang pendek, yaitu 677 meter, berkat kecepatan pendekatan yang rendah sebesar 198 kilometer per jam.
Dari sisi navigasi, jet ini dilengkapi dengan dek penerbangan canggih EASy IV yang didukung oleh sistem penglihatan gabungan FalconEye®.
Dari segi dimensi, Falcon 8X memiliki ukuran eksternal dengan panjang pesawat 24,46 meter, tinggi 7,94 meter, dan rentang sayap sepanjang 26,29 meter yang mendukung efisiensi aerodinamis tinggi. Fleksibilitas operasionalnya ditopang oleh spesifikasi bobot yang kokoh, dengan berat maksimum lepas landas mencapai 33.113 kilogram dan kapasitas bahan bakar maksimal sebesar 15.940 kilogram.
Interior pesawat menawarkan kabin dengan panjang 13 meter, lebar 2,34 meter, dan tinggi 1,88 meter, serta ruang bagasi sebesar 4 meter kubik. Kabin ini tidak hanya luas secara volume, tetapi juga terkenal sebagai salah satu yang paling senyap di kelasnya dengan sistem sirkulasi udara mutakhir.
5. Airbus A400M/MRTT
Airbus A400M/MRTT merupakan pesawat angkut militer yang dapat beroperasi pada berbagai kondisi dan mampu beroperasi di landasan tidak beraspal maupun lapangan udara semi-permanen.
Dikutip dari laman Sekretariat Presiden, pesawat ini memiliki kemampuan sebagai pesawat multi role tanker transport (MRTT) untuk melakukan pengisian bahan bakar udara ke udara (air-to-air refuelling) dengan pesawat tempur. Dengan kapasitas angkut hingga 37 ton, pesawat ini mampu melakukan penerbangan dengan daya jelajah selama 8 jam tanpa melakukan pengisian bahan bakar.
Selain itu, pesawat Airbus A400M/MRTT memiliki sistem terintegrasi canggih yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran situasional dan kinerja dalam setiap penerbangan.
6. Radar Ground Control Intercept (GCI) GM403
Radar Ground Master 403 (GM-403) adalah bagian dari keluarga radar 3D jarak jauh Ground Master 400 yang diproduksi oleh Thales Prancis. Radar sistem pertahanan udara ini dirancang khusus untuk kebutuhan Ground Control Interception (GCI) dengan fokus utama pada mobilitas tinggi dan kemampuan deteksi target udara yang sangat presisi.
Dikutip dari Antara, radar CGI GM-403 merupakan sistem radar pertahanan udara canggih dengan sistem digital penuh yang memiliki kemampuan deteksi jarak jauh hingga 470 kilometer. Radar ini mampu memantau target pada ketinggian 30.500 meter. Dirancang untuk menghadapi spektrum ancaman modern, radar ini mampu mendeteksi berbagai objek udara dari jarak sangat jauh, mulai dari pesawat tempur bermanuver tinggi, rudal jelajah, helikopter, hingga pesawat tanpa awak (UAV).
Selain kemampuan deteksinya yang presisi, GM-403 diunggulkan karena faktor mobilitasnya yang tinggi menghindar dari serangan balik musuh. Seluruh komponen sistem radar ini dikemas secara ringkas ke dalam satu kontainer ISO berukuran 6,1 meter, sehingga sangat taktis untuk dipindahkan.
Sistem ini juga tergolong sangat efisien dan cepat untuk dioperasikan, yakni hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit dan minimal 4 personel untuk membuat radar ini siap beroperasi penuh di lokasi baru.
Ervana Trikarinaputri dan Hendrik Khoirul Muhid berkontribusi dalam penulisan artikel ini
💡 Puntos Clave
- Este artículo cubre aspectos importantes sobre
- Información verificada y traducida de fuente confiable
- Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia
📚 Información de la Fuente
| 📰 Publicación: | nasional.tempo.co |
| ✍️ Autor: | |
| 📅 Fecha Original: | 2026-05-19 11:32:00 |
| 🔗 Enlace: | Ver artículo original |
Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.
📬 ¿Te gustó este artículo?
Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.








:max_bytes(150000):strip_icc():format(jpeg)/Charles-Spencer-Weds-Cat-Jarman-051826-8f73bd6234964602accfc80a82888361.jpg?w=100&resize=100,75&ssl=1)
