📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1770586105
🔍 En este artículo:
INFO TEMPO – Kiprah PT Pertamina (Persero) dalam mengembangkan industri energi ramah lingkungan kian menunjukkan keseriusannya. Menjelang akhir pekan, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara meresmikan groundbreaking dua proyek hijau Pertamina yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah, dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua proyek ini menjadi bagian dari upaya mendukung program Pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi berbasis pemanfaatan sumber daya dalam negeri yang berkelanjutan.
Dua proyek strategis tersebut adalah Biorefinery Cilacap dan Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi yang diresmikan secara serentak dalam acara Peresmian Proyek Hilirisasi Fase I, terhubung secara daring dengan lokasi proyek di daerah, di Kantor Danantara, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan agenda strategis nasional yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia dan menjadi fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. Menurutnya, tahap awal proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian Indonesia.
[–>
“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan bahwa kedua proyek ini merupakan langkah konkret Pertamina dalam mendukung target swasembada energi ramah lingkungan nasional. Ia menekankan pemanfaatan potensi sumber daya dalam negeri sebagai fondasi utama transisi energi.
[–>
“Program Biorefinery Cilacap dan pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore diharapkan dapat mewujudkan transisi energi ramah lingkungan, berpotensi menurunkan impor avtur dan BBM, serta mendukung peta jalan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan swasembada energi di Indonesia,” jelas Simon.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, yang hadir di Kilang Pertamina Cilacap, menegaskan bahwa proyek Biorefinery Cilacap sejalan dengan strategi Dual Growth Pertamina. Strategi ini menitikberatkan pada pengembangan bisnis rendah karbon tanpa mengesampingkan penguatan bisnis eksisting.
Untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok SAF, Pertamina membangun sinergi lintas pemangku kepentingan, mulai dari regulator, penyedia bahan baku, produsen, hingga offtaker sebagai pengguna akhir. Sinergi tersebut ditujukan untuk menciptakan ekosistem SAF yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
“Ini merupakan salah satu proyek percontohan yang cukup lengkap. Banyak multiplier effect yang dihasilkan, mulai dari pengurangan impor dan defisit transaksi berjalan, penciptaan lapangan kerja, hingga kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dan polusi udara,” imbuh Emma.
Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono yang menghadiri peresmian Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi menyampaikan bahwa proyek ini mencerminkan kolaborasi nyata dalam menghadirkan energi bersih bagi masyarakat. Pabrik ini merupakan hasil sinergi Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nasional (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN).
“Pembangunan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi Pertamina dengan PTPN untuk menghasilkan energi bersih untuk rakyat. Selain itu, kolaborasi ini juga mendorong perekonomian masyarakat dan memperkuat swasembada energi,” ungkap Agung.
Secara rinci, Proyek Biorefinery Cilacap dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6.000 barel per hari minyak jelantah (used cooking oil/UCO) yang akan diolah menjadi energi hijau. Saat ini, Kilang Cilacap telah memproduksi 27 kiloliter SAF per hari, dan pada 2029 diproyeksikan meningkat hingga 887 kiloliter SAF. Proyek ini diperkirakan berkontribusi terhadap PDB nasional hingga Rp199 triliun per tahun, menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja selama masa konstruksi, serta menargetkan tingkat komponen dalam negeri sebesar 30%. Selain itu, penggunaan SAF diharapkan mampu menurunkan emisi hingga 600 ribu ton setara CO.
Dari sisi hulu, Pertamina juga memberdayakan masyarakat melalui pengumpulan bahan baku UCO, salah satunya melalui Komunitas Beo Asri yang melibatkan lebih dari 2.900 kepala keluarga di tujuh titik pengumpulan minyak jelantah.
Adapun Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 30 ribu kiloliter bioethanol berbasis tebu per tahun. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi impor BBM dan ethanol, memberdayakan lebih dari 4.000 tenaga kerja lokal dan petani tebu, serta mencapai sekitar 25% TKDN. Selain itu, proyek ini diproyeksikan dapat menurunkan emisi hingga 66 ribu ton setara CO per tahun.
Melalui kedua proyek hijau ini, Pertamina menegaskan perannya sebagai perusahaan pemimpin dalam transisi energi nasional, sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut dijalankan sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha, dan lingkungan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnisnya, berkoordinasi dengan Danantara Indonesia.(*)
INFO TEMPO – Kiprah PT Pertamina (Persero) dalam mengembangkan industri energi ramah lingkungan kian menunjukkan keseriusannya. Menjelang akhir pekan, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara meresmikan groundbreaking dua proyek hijau Pertamina yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah, dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua proyek ini menjadi bagian dari upaya mendukung program Pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi berbasis pemanfaatan sumber daya dalam negeri yang berkelanjutan.
Dua proyek strategis tersebut adalah Biorefinery Cilacap dan Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi yang diresmikan secara serentak dalam acara Peresmian Proyek Hilirisasi Fase I, terhubung secara daring dengan lokasi proyek di daerah, di Kantor Danantara, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan agenda strategis nasional yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia dan menjadi fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. Menurutnya, tahap awal proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian Indonesia.
[–>
“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan bahwa kedua proyek ini merupakan langkah konkret Pertamina dalam mendukung target swasembada energi ramah lingkungan nasional. Ia menekankan pemanfaatan potensi sumber daya dalam negeri sebagai fondasi utama transisi energi.
[–>
“Program Biorefinery Cilacap dan pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore diharapkan dapat mewujudkan transisi energi ramah lingkungan, berpotensi menurunkan impor avtur dan BBM, serta mendukung peta jalan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan swasembada energi di Indonesia,” jelas Simon.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, yang hadir di Kilang Pertamina Cilacap, menegaskan bahwa proyek Biorefinery Cilacap sejalan dengan strategi Dual Growth Pertamina. Strategi ini menitikberatkan pada pengembangan bisnis rendah karbon tanpa mengesampingkan penguatan bisnis eksisting.
Untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok SAF, Pertamina membangun sinergi lintas pemangku kepentingan, mulai dari regulator, penyedia bahan baku, produsen, hingga offtaker sebagai pengguna akhir. Sinergi tersebut ditujukan untuk menciptakan ekosistem SAF yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
“Ini merupakan salah satu proyek percontohan yang cukup lengkap. Banyak multiplier effect yang dihasilkan, mulai dari pengurangan impor dan defisit transaksi berjalan, penciptaan lapangan kerja, hingga kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dan polusi udara,” imbuh Emma.
Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono yang menghadiri peresmian Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi menyampaikan bahwa proyek ini mencerminkan kolaborasi nyata dalam menghadirkan energi bersih bagi masyarakat. Pabrik ini merupakan hasil sinergi Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nasional (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN).
“Pembangunan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi Pertamina dengan PTPN untuk menghasilkan energi bersih untuk rakyat. Selain itu, kolaborasi ini juga mendorong perekonomian masyarakat dan memperkuat swasembada energi,” ungkap Agung.
Secara rinci, Proyek Biorefinery Cilacap dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6.000 barel per hari minyak jelantah (used cooking oil/UCO) yang akan diolah menjadi energi hijau. Saat ini, Kilang Cilacap telah memproduksi 27 kiloliter SAF per hari, dan pada 2029 diproyeksikan meningkat hingga 887 kiloliter SAF. Proyek ini diperkirakan berkontribusi terhadap PDB nasional hingga Rp199 triliun per tahun, menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja selama masa konstruksi, serta menargetkan tingkat komponen dalam negeri sebesar 30%. Selain itu, penggunaan SAF diharapkan mampu menurunkan emisi hingga 600 ribu ton setara CO.
Dari sisi hulu, Pertamina juga memberdayakan masyarakat melalui pengumpulan bahan baku UCO, salah satunya melalui Komunitas Beo Asri yang melibatkan lebih dari 2.900 kepala keluarga di tujuh titik pengumpulan minyak jelantah.
Adapun Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 30 ribu kiloliter bioethanol berbasis tebu per tahun. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi impor BBM dan ethanol, memberdayakan lebih dari 4.000 tenaga kerja lokal dan petani tebu, serta mencapai sekitar 25% TKDN. Selain itu, proyek ini diproyeksikan dapat menurunkan emisi hingga 66 ribu ton setara CO per tahun.
Melalui kedua proyek hijau ini, Pertamina menegaskan perannya sebagai perusahaan pemimpin dalam transisi energi nasional, sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut dijalankan sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha, dan lingkungan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnisnya, berkoordinasi dengan Danantara Indonesia.(*)
💡 Puntos Clave
- Este artículo cubre aspectos importantes sobre
- Información verificada y traducida de fuente confiable
- Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia
📚 Información de la Fuente
| 📰 Publicación: | nasional.tempo.co |
| ✍️ Autor: | |
| 📅 Fecha Original: | 2026-02-08 02:20:00 |
| 🔗 Enlace: | Ver artículo original |
Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.
📬 ¿Te gustó este artículo?
Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.



