Exposición Crimson Gilt: un esfuerzo por releer la memoria colectiva de la historia marítima de Indonesia

 |

📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1770315209

🔍 En este artículo:

INFO TEMPO – Seniman asal Belanda, Vincent Ruijters menggelar pameran seni bertajuk Crimson Gilt di Museum Bahari Jakarta. Menampilkan karya-karya yang mengajak pengunjung meninjau ulang narasi krisis dan sejarah maritim Indonesia dari sudut pandang artistik mulai dari 7 Februari hingga 7 April 2026.

[–>

Crimson Gilt mengungkap sisi kelam sejarah kolonial maritim Indonesia dan mempertemukannya dengan warisan perdagangan bilateral Jepang. Hal ini merupakan upaya mengingat kembali sekaligus mencatatnya dalam kerangka pemahaman yang holistik, reflektif, dan kritis.

«Karena ini adalah hal dari sejarah. See also: source 1. Sejarah ada di masa lalu, tapi hidup di masa sekarang. Kenapa? Karena kita masih berbicara tentang sejarah,» kata Vincent saat diwawancarai pada Rabu, 5 Februari 2026.

[–>

Vincent Ruijters dalam pameran ini menciptakan ilusi kapal yang tampak melayang. Dibangun melalui sebuah instalasi tekstil berskala ruang (site-specific). Konteks yang dibangun Vincent adalah replikasi dari model Kapal Amsterdam, yang dibuat pada 1789 dan tenggelam dalam pelayaran pertamanya menuju Batavia (sekarang Jakarta).

Kapal ini memiliki dimensi sejarah berlapis yang kontradiktif. Dirayakan oleh sebagian orang karena masuk dalam narasi kejayaan Belanda dan Jepang. Namun, juga dikecam karena menjadi bagian dari kejahatan eksploitatif yang mengawali tiga setengah abad penjajahan di Indonesia.

[–>

Kontradiksi ini yang oleh Vincent diartikulasikan melalui pola warna kapal. Di Museum Bahari Jakarta, kapal dibuat berwarna merah di bagian depan dan berwarna emas di bagian dalam, menandakan penderitaan yang eksplisit dan kekayaan yang dikuras.

Kapal, bagi Indonesia tempo dulu, bukan sekadar alat transportasi. Melainkan memiliki arti yang sangat krusial sebagai simbol perdagangan, peradaban, budaya, dan kedaulatan maritim. Read more: source 1. Nenek moyang bangsa ini merupakan pelaut ulung yang mengandalkan bahari untuk kehidupan.

Namun, menurut Vincent, kedatangan VOC mengubah esensi kapal dari medium perjumpaan dan pertukaran menjadi alat ekspansi imperium untuk memonopoli jalur laut, mengendalikan distribusi rempah, bahkan memaksakan perjanjian dagang.

Selain membuat kapal kehilangan posisi simboliknya sebagai identitas bangsa, pola kolonial VOC juga memperkenalkan klasifikasi ras yang kaku. Eropa diposisikan sebagai penguasa, Timur asing seperti Cina, Arab, dan India sebagai perantara ekonomi, serta pribumi sebagai tenaga kerja atau subjek kolonial.

Vincent membuka dialog melalui narasi tersebut dengan inspirasi yang sangat personal. Meski bermukim di Belanda, ia memiliki latar belakang darah campuran—ayahnya berkebangsaan Belanda, sementara ibunya berdarah Indonesia-Cina. Lihat juga source 1. Keluarga dari ibu Vincent menetap di Indonesia selama tujuh generasi sebelum melarikan diri ke Belanda akibat pembantaian massal pada tahun 1965–1966.

Jepang juga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Vincent memiliki istri berkebangsaan Jepang dan pernah tinggal di negara tersebut selama delapan tahun. Karena itu, Nusantara beserta sejarahnya, bagi Vincent, merupakan bagian dari identitas dan kebudayaannya.

Vincent mengatakan, Belanda, Jepang, dan Indonesia memiliki perspektif yang berbeda dalam memaknai sejarah VOC. Melalui perbedaan pandangan tersebut, karya ini dimaksudkan untuk menghubungkan ketiga negara itu. “Saya ingin membangun jembatan di antara semuanya, karena ketiganya merupakan bagian dari identitas saya,” ujarnya.

Seniman asal Belanda Vincent Ruijters saat menyampaikan penjelasan karya Crimson Gilt kepada pengunjung dan pejabat Pemprov DKI Jakarta di Museum Bahari Jakarta, pada Kamis, 5 Februari 2026. TEMPO/Hendy Mulia

Dalam narasi Crimson Gilt, Kapal Amsterdam tidak tenggelam, justru melanjutkan perjalanan ke Hirado, kemudian dengan berdaulat membawa ruh VOC mengarungi lintasan pelayaran pulang. Dari Hirado, ke Jakarta, dan kembali ke Amsterdam, menutup babak panjang sejarah penjajahan Indonesia.

Wakil Wali Kota Jakarta Utara Fredy Setiawan mengatakan pameran ini bisa menjadi ruang dialog budaya, lintas generasi, dan kebangsaan. Ia menilai instalasi seni kontemporer mampu memicu refleksi, membangun kesadaran, sekaligus membuka babak baru dalam dinamika sosial, sejarah, identitas, dan masa depan.

“Seni adalah wajah peradaban,” kata Fredy. Ketika seni mendapat penghargaan, kualitas peradaban sebuah kota akan semakin bermakna dan bernilai. Pandangan tersebut sejalan dengan transformasi perekonomian Jakarta sebagai kota global, yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan ekosistem, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.

“Kami berharap pameran ini juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini agar mencintai seni, berani mengekspresikan diri, dan menjadikan kreativitas sebagai kekuatan dalam membangun masa depan kita,” kata Fredy.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Retno Setiowati, mengatakan pameran Crimson Gilt merupakan salah satu agenda dalam rangka menyambut 500 tahun Kota Jakarta. Ia menjelaskan, Museum Bahari Jakarta dipilih sebagai lokasi pameran karena bangunan tersebut merupakan bekas gudang VOC di Batavia, sehingga memiliki relevansi historis dan konseptual untuk membahas warisan maritim pascakolonial.

“Semoga pameran ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua,” kata dia.

Pameran Crimson Gilt dibuat dalam seri pameran kapal VOC yang dipresentasikan di tiga negara, yaitu Jepang, Indonesia, dan Belanda. Masing-masing mengambil tempat bersejarah, yakni kantor dagang VOC di Hirado, Museum Bahari di Jakarta, dan Museum Maritim Nasional di Amsterdam. Dalam konteks ini, ruang menjadi bagian dari narasi yang menyimpan ingatan kolonial, sehingga pertemuan antara karya dan ruang menjadi signifikan. (*)

INFO TEMPO – Seniman asal Belanda, Vincent Ruijters menggelar pameran seni bertajuk Crimson Gilt di Museum Bahari Jakarta. Menampilkan karya-karya yang mengajak pengunjung meninjau ulang narasi krisis dan sejarah maritim Indonesia dari sudut pandang artistik mulai dari 7 Februari hingga 7 April 2026.

[–>

Crimson Gilt mengungkap sisi kelam sejarah kolonial maritim Indonesia dan mempertemukannya dengan warisan perdagangan bilateral Jepang. Hal ini merupakan upaya mengingat kembali sekaligus mencatatnya dalam kerangka pemahaman yang holistik, reflektif, dan kritis.

«Karena ini adalah hal dari sejarah. See also: source 1. Sejarah ada di masa lalu, tapi hidup di masa sekarang. Kenapa? Karena kita masih berbicara tentang sejarah,» kata Vincent saat diwawancarai pada Rabu, 5 Februari 2026.

[–>

Vincent Ruijters dalam pameran ini menciptakan ilusi kapal yang tampak melayang. Dibangun melalui sebuah instalasi tekstil berskala ruang (site-specific). Konteks yang dibangun Vincent adalah replikasi dari model Kapal Amsterdam, yang dibuat pada 1789 dan tenggelam dalam pelayaran pertamanya menuju Batavia (sekarang Jakarta).

Kapal ini memiliki dimensi sejarah berlapis yang kontradiktif. Dirayakan oleh sebagian orang karena masuk dalam narasi kejayaan Belanda dan Jepang. Namun, juga dikecam karena menjadi bagian dari kejahatan eksploitatif yang mengawali tiga setengah abad penjajahan di Indonesia.

[–>

Kontradiksi ini yang oleh Vincent diartikulasikan melalui pola warna kapal. Di Museum Bahari Jakarta, kapal dibuat berwarna merah di bagian depan dan berwarna emas di bagian dalam, menandakan penderitaan yang eksplisit dan kekayaan yang dikuras.

Kapal, bagi Indonesia tempo dulu, bukan sekadar alat transportasi. Melainkan memiliki arti yang sangat krusial sebagai simbol perdagangan, peradaban, budaya, dan kedaulatan maritim. Read more: source 1. Nenek moyang bangsa ini merupakan pelaut ulung yang mengandalkan bahari untuk kehidupan.

Namun, menurut Vincent, kedatangan VOC mengubah esensi kapal dari medium perjumpaan dan pertukaran menjadi alat ekspansi imperium untuk memonopoli jalur laut, mengendalikan distribusi rempah, bahkan memaksakan perjanjian dagang.

Selain membuat kapal kehilangan posisi simboliknya sebagai identitas bangsa, pola kolonial VOC juga memperkenalkan klasifikasi ras yang kaku. Eropa diposisikan sebagai penguasa, Timur asing seperti Cina, Arab, dan India sebagai perantara ekonomi, serta pribumi sebagai tenaga kerja atau subjek kolonial.

Vincent membuka dialog melalui narasi tersebut dengan inspirasi yang sangat personal. Meski bermukim di Belanda, ia memiliki latar belakang darah campuran—ayahnya berkebangsaan Belanda, sementara ibunya berdarah Indonesia-Cina. Lihat juga source 1. Keluarga dari ibu Vincent menetap di Indonesia selama tujuh generasi sebelum melarikan diri ke Belanda akibat pembantaian massal pada tahun 1965–1966.

Jepang juga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Vincent memiliki istri berkebangsaan Jepang dan pernah tinggal di negara tersebut selama delapan tahun. Karena itu, Nusantara beserta sejarahnya, bagi Vincent, merupakan bagian dari identitas dan kebudayaannya.

Vincent mengatakan, Belanda, Jepang, dan Indonesia memiliki perspektif yang berbeda dalam memaknai sejarah VOC. Melalui perbedaan pandangan tersebut, karya ini dimaksudkan untuk menghubungkan ketiga negara itu. “Saya ingin membangun jembatan di antara semuanya, karena ketiganya merupakan bagian dari identitas saya,” ujarnya.

Seniman asal Belanda Vincent Ruijters saat menyampaikan penjelasan karya Crimson Gilt kepada pengunjung dan pejabat Pemprov DKI Jakarta di Museum Bahari Jakarta, pada Kamis, 5 Februari 2026. TEMPO/Hendy Mulia

Dalam narasi Crimson Gilt, Kapal Amsterdam tidak tenggelam, justru melanjutkan perjalanan ke Hirado, kemudian dengan berdaulat membawa ruh VOC mengarungi lintasan pelayaran pulang. Dari Hirado, ke Jakarta, dan kembali ke Amsterdam, menutup babak panjang sejarah penjajahan Indonesia.

Wakil Wali Kota Jakarta Utara Fredy Setiawan mengatakan pameran ini bisa menjadi ruang dialog budaya, lintas generasi, dan kebangsaan. Ia menilai instalasi seni kontemporer mampu memicu refleksi, membangun kesadaran, sekaligus membuka babak baru dalam dinamika sosial, sejarah, identitas, dan masa depan.

“Seni adalah wajah peradaban,” kata Fredy. Ketika seni mendapat penghargaan, kualitas peradaban sebuah kota akan semakin bermakna dan bernilai. Pandangan tersebut sejalan dengan transformasi perekonomian Jakarta sebagai kota global, yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan ekosistem, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.

“Kami berharap pameran ini juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini agar mencintai seni, berani mengekspresikan diri, dan menjadikan kreativitas sebagai kekuatan dalam membangun masa depan kita,” kata Fredy.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Retno Setiowati, mengatakan pameran Crimson Gilt merupakan salah satu agenda dalam rangka menyambut 500 tahun Kota Jakarta. Ia menjelaskan, Museum Bahari Jakarta dipilih sebagai lokasi pameran karena bangunan tersebut merupakan bekas gudang VOC di Batavia, sehingga memiliki relevansi historis dan konseptual untuk membahas warisan maritim pascakolonial.

“Semoga pameran ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua,” kata dia.

Pameran Crimson Gilt dibuat dalam seri pameran kapal VOC yang dipresentasikan di tiga negara, yaitu Jepang, Indonesia, dan Belanda. Masing-masing mengambil tempat bersejarah, yakni kantor dagang VOC di Hirado, Museum Bahari di Jakarta, dan Museum Maritim Nasional di Amsterdam. Dalam konteks ini, ruang menjadi bagian dari narasi yang menyimpan ingatan kolonial, sehingga pertemuan antara karya dan ruang menjadi signifikan. (*)

💡 Puntos Clave

  • Este artículo cubre aspectos importantes sobre
  • Información verificada y traducida de fuente confiable
  • Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia

📚 Información de la Fuente

📰 Publicación: nasional.tempo.co
✍️ Autor:
📅 Fecha Original: 2026-02-05 15:19:00
🔗 Enlace: Ver artículo original

Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.

📬 ¿Te gustó este artículo?

Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.

💬 Dejar un comentario