Pancasila y Trisakti se convierten en el liderazgo de la hermandad mundial

 |

📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1770549207

🔍 En este artículo:

INFO TEMPO – Presiden Kelima Republik Indonesia Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri membawa misi ideologi Pancasila dan ajaran Trisakti dalam kunjungan ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada 1–5 Februari 2026. Megawati menghadiri rangkaian agenda Zayed Award for Human Fraternity (ZAHF), meliputi Zayed Award 2026 Annual Ceremony, Guest Of Honour Gala Dinner, Zayed Award Roundtable Meeting, dan International Human Fraternity Majlis. Selama berada di UEA, Megawati didampingi Ketua DPR RI Puan Maharani dan Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo, beserta rombongan.

[–>

Di forum internasional tersebut, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu memperkenalkan Pancasila dan Trisakti sebagai model universal untuk membangun perdamaian dunia. Di hadapan para pemimpin dunia dan tokoh perempuan global, Megawati menyampaikan konsep persaudaraan manusia bukanlah hal baru bagi Indonesia. Nilai itu telah lama hidup dalam Pancasila.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

«Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjalanan bangsa Indonesia,» ujar Megawati. Dia menjelaskan, inti dari lima sila Pancasila adalah gotong royong -kearifan lokal yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri lebih dari 17 ribu pulau, 1.300 etnis, dan ratusan bahasa daerah.

[–>

Megawati juga mengutip pesan sang ayah, Proklamator RI Bung Karno, yang menegaskan Indonesia tidak didirikan untuk satu golongan, agama, atau suku tertentu. «Indonesia didirikan untuk semua, semua untuk satu. Prinsip ini yang menjadi fondasi etik kepemimpinan nasional kami,» katanya.

Selain Pancasila, Megawati memperkenalkan ajaran Trisakti sebagai pilar membangun bangsa yang bermartabat. Tiga pilar itu adalah berdaulat di bidang politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Menurut dia, kepemimpinan global masa depan harus berakar pada persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas negara, agama, dan identitas.

[–>

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, Megawati menekankan keberagaman bukan penghalang, melainkan kekuatan, sebagaimana tercermin dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. «Ketika kita menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian dalam seluruh ruang hidup, kepemimpinan tidak lagi semata soal jabatan, melainkan kontribusi nyata bagi peradaban global,» ujarnya.

Megawati menyoroti tantangan global saat ini. Dia menilai dunia mulai kehilangan kesadaran akan persatuan sebagai sesama penghuni bumi. «Dari semua pembicaraan dalam forum ini, semua merasakan bagaimana dunia sepertinya mulai melupakan sebetulnya kehidupan kita itu satu, satu bumi,» ujar Megawati. Kembali ke ideologi Pancasila, Megawati melanjutkan, nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila bersifat universal dan sejalan dengan semangat Human Fraternity atau Persaudaraan Manusia.

Dalam forum tersebut, Megawati duduk bersebelahan dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta dan aktivis HAM India Kailash Satyarthi. Ia juga berdialog dengan sejumlah pemimpin perempuan dunia, di antaranya Ibu Negara Lebanon Nehmat Aoun, Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari, Ibu Negara Kolombia Veronica Alcocer Garcia, Saida Mirziyoyev dari Uzbekistan, dan Leyla Aliyeva dari Azerbaijan.

Megawati menyampaikan harapan tentang masa depan dunia yang lebih baik dengan mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat hukum internasional tentang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam Forum Zayed 2026, Megawati meminta supaya generasi penerus terlindungi dari ancaman AI.

«Pentingnya pergerakan kolektif yang lebih masif untuk menjamin masa depan generasi penerus,» kata Megawati. «Seharusnya kita lebih banyak bergerak untuk masa depan anak-anak. Harus dirancang sejak sekarang.»

Kendati mengakui manfaat teknologi, Megawati menyuarakan kekhawatiran mendalam jika AI dibiarkan tanpa payung hukum demi melindungi kemanusiaan. Salah satu contoh ancaman manipulasi digital adalah ketika teknologi mampu merekayasa visual dan suara seseorang sehingga memunculkan deepfake.

Megawati meminta PBB melihat situasi ini secara serius dan segera merumuskan hukum internasional yang dapat mengatur cara kerja AI supaya tidak merugikan umat manusia. Pandangan tersebut mendapat respons positif dari para tokoh dunia yang hadir dalam forum Zayed Award. Ada kesepahaman bahwa meskipun teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan dunia, pengaturannya tetap krusial.

Pesan untuk Perempuan dan Sentuhan Empati Meredam Konflik

Megawati menyampaikan pesan khusus bagi perempuan, terutama generasi muda tentang peran di ruang publik dan peran dalam keluarga bukanlah hal yang saling bertentangan. «Yang dibutuhkan adalah manajemen waktu, komunikasi yang setara dengan pasangan hidup, serta dukungan struktural dari negara dan lingkungan sosial,» ujarnya.

Ibu dari Mohammad Rizki Pratama, Muhammad Prananda Prabowo, dan Puan Maharani Nakshatra Kusyala, ini menceritakan perjalanan panjang hidupnya yang dibentuk oleh pendidikan orang tuanya, Presiden Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati, yang menanamkan nilai keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran, serta etika moral. Ia juga bersyukur tetap dapat menjalankan peran sebagai istri dan ibu di tengah perjalanan panjang sebagai Ketua Umum PDIP sejak 1993, anggota DPR, Wakil Presiden, hingga Presiden RI.

Kepemimpinan perempuan adalah kemampuan menyatukan peran, bukan mempertentangkannya. Empati menjadi kekuatan khas perempuan dalam menghadirkan kepemimpinan yang manusiawi. 

Megawati juga berbagi pengalaman saat memimpin Indonesia di masa transisi demokrasi awal 2000-an ketika konflik horizontal pecah di Poso dan Ambon. Alih-alih mengedepankan pendekatan represif, dia memilih jalan dialog dan rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan. 

«Sebagai kepala negara, saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi,» katanya. “Kepemimpinan sejati menuntut kemampuan mendengar denyut kehidupan rakyat, menghadirkan empati, dan membangun kepercayaan.”

Jejak Megawati di Zayed Award

Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama Presiden Timor Leste Ramos Horta di kompleks Istana Qasr Al Watan, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Rabu, 4 Februari 2026. DOK. PDIP

Zayed Award for Human Fraternity merupakan penghargaan internasional yang digagas pada 2019. Penghargaan ini terinspirasi dari penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb di Abu Dhabi.

Megawati memiliki hubungan khusus dengan penghargaan ini. Pada 2024, ia menjadi anggota dewan juri serta memperjuangkan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah hingga terpilih sebagai pemenang kategori organisasi kemasyarakatan. Kehadiran Megawati di Abu Dhabi menjadi simbol kesinambungan peran Indonesia dalam diplomasi perdamaian global.

Dalam kunjungan tersebut, Megawati bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan di Istana Qasr Al Watan. Pertemuan berlangsung sekitar satu jam dan membahas peluang kerja sama strategis, khususnya di bidang riset.

Sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati memaparkan potensi kerja sama penelitian di berbagai bidang, mulai dari pangan hingga keanekaragaman hayati. Dia juga menyoroti ketertarikannya pada teknologi desalinasi air laut yang telah maju di UEA. 

Diplomasi Hangat dan Momen Personal

Di sela agenda resmi, Megawati bertemu Presiden Timor Leste José Ramos-Horta yang kemudian mengundangnya ke Timor Leste. Bahkan Megawati sempat bercerita dan menanyakan kabar anak angkatnya yang kini menjadi Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, Kupa Lopez. 

Ketika berkunjung ke kantor Kedutaan Besar RI untuk UEA, Megawati menuliskan pesan dalam buku tamu Wisma Duta. «MERDEKA. Sebagai Bangsa Indonesia kita selalu harus punya keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran dalam membangun Negara kita tercinta. See also: pdf view. Karena perjuangan kita memerdekaan Indonesia sejati belum selesai!» tulisnya. (*)

INFO TEMPO – Presiden Kelima Republik Indonesia Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri membawa misi ideologi Pancasila dan ajaran Trisakti dalam kunjungan ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada 1–5 Februari 2026. Megawati menghadiri rangkaian agenda Zayed Award for Human Fraternity (ZAHF), meliputi Zayed Award 2026 Annual Ceremony, Guest Of Honour Gala Dinner, Zayed Award Roundtable Meeting, dan International Human Fraternity Majlis. Selama berada di UEA, Megawati didampingi Ketua DPR RI Puan Maharani dan Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo, beserta rombongan.

[–>

Di forum internasional tersebut, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu memperkenalkan Pancasila dan Trisakti sebagai model universal untuk membangun perdamaian dunia. Di hadapan para pemimpin dunia dan tokoh perempuan global, Megawati menyampaikan konsep persaudaraan manusia bukanlah hal baru bagi Indonesia. Nilai itu telah lama hidup dalam Pancasila.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

«Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjalanan bangsa Indonesia,» ujar Megawati. Dia menjelaskan, inti dari lima sila Pancasila adalah gotong royong -kearifan lokal yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri lebih dari 17 ribu pulau, 1.300 etnis, dan ratusan bahasa daerah.

[–>

Megawati juga mengutip pesan sang ayah, Proklamator RI Bung Karno, yang menegaskan Indonesia tidak didirikan untuk satu golongan, agama, atau suku tertentu. «Indonesia didirikan untuk semua, semua untuk satu. Prinsip ini yang menjadi fondasi etik kepemimpinan nasional kami,» katanya.

Selain Pancasila, Megawati memperkenalkan ajaran Trisakti sebagai pilar membangun bangsa yang bermartabat. Tiga pilar itu adalah berdaulat di bidang politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Menurut dia, kepemimpinan global masa depan harus berakar pada persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas negara, agama, dan identitas.

[–>

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, Megawati menekankan keberagaman bukan penghalang, melainkan kekuatan, sebagaimana tercermin dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. «Ketika kita menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian dalam seluruh ruang hidup, kepemimpinan tidak lagi semata soal jabatan, melainkan kontribusi nyata bagi peradaban global,» ujarnya.

Megawati menyoroti tantangan global saat ini. Dia menilai dunia mulai kehilangan kesadaran akan persatuan sebagai sesama penghuni bumi. «Dari semua pembicaraan dalam forum ini, semua merasakan bagaimana dunia sepertinya mulai melupakan sebetulnya kehidupan kita itu satu, satu bumi,» ujar Megawati. Kembali ke ideologi Pancasila, Megawati melanjutkan, nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila bersifat universal dan sejalan dengan semangat Human Fraternity atau Persaudaraan Manusia.

Dalam forum tersebut, Megawati duduk bersebelahan dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta dan aktivis HAM India Kailash Satyarthi. Ia juga berdialog dengan sejumlah pemimpin perempuan dunia, di antaranya Ibu Negara Lebanon Nehmat Aoun, Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari, Ibu Negara Kolombia Veronica Alcocer Garcia, Saida Mirziyoyev dari Uzbekistan, dan Leyla Aliyeva dari Azerbaijan.

Megawati menyampaikan harapan tentang masa depan dunia yang lebih baik dengan mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat hukum internasional tentang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam Forum Zayed 2026, Megawati meminta supaya generasi penerus terlindungi dari ancaman AI.

«Pentingnya pergerakan kolektif yang lebih masif untuk menjamin masa depan generasi penerus,» kata Megawati. «Seharusnya kita lebih banyak bergerak untuk masa depan anak-anak. Harus dirancang sejak sekarang.»

Kendati mengakui manfaat teknologi, Megawati menyuarakan kekhawatiran mendalam jika AI dibiarkan tanpa payung hukum demi melindungi kemanusiaan. Salah satu contoh ancaman manipulasi digital adalah ketika teknologi mampu merekayasa visual dan suara seseorang sehingga memunculkan deepfake.

Megawati meminta PBB melihat situasi ini secara serius dan segera merumuskan hukum internasional yang dapat mengatur cara kerja AI supaya tidak merugikan umat manusia. Pandangan tersebut mendapat respons positif dari para tokoh dunia yang hadir dalam forum Zayed Award. Ada kesepahaman bahwa meskipun teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan dunia, pengaturannya tetap krusial.

Pesan untuk Perempuan dan Sentuhan Empati Meredam Konflik

Megawati menyampaikan pesan khusus bagi perempuan, terutama generasi muda tentang peran di ruang publik dan peran dalam keluarga bukanlah hal yang saling bertentangan. «Yang dibutuhkan adalah manajemen waktu, komunikasi yang setara dengan pasangan hidup, serta dukungan struktural dari negara dan lingkungan sosial,» ujarnya.

Ibu dari Mohammad Rizki Pratama, Muhammad Prananda Prabowo, dan Puan Maharani Nakshatra Kusyala, ini menceritakan perjalanan panjang hidupnya yang dibentuk oleh pendidikan orang tuanya, Presiden Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati, yang menanamkan nilai keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran, serta etika moral. Ia juga bersyukur tetap dapat menjalankan peran sebagai istri dan ibu di tengah perjalanan panjang sebagai Ketua Umum PDIP sejak 1993, anggota DPR, Wakil Presiden, hingga Presiden RI.

Kepemimpinan perempuan adalah kemampuan menyatukan peran, bukan mempertentangkannya. Empati menjadi kekuatan khas perempuan dalam menghadirkan kepemimpinan yang manusiawi. 

Megawati juga berbagi pengalaman saat memimpin Indonesia di masa transisi demokrasi awal 2000-an ketika konflik horizontal pecah di Poso dan Ambon. Alih-alih mengedepankan pendekatan represif, dia memilih jalan dialog dan rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan. 

«Sebagai kepala negara, saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi,» katanya. “Kepemimpinan sejati menuntut kemampuan mendengar denyut kehidupan rakyat, menghadirkan empati, dan membangun kepercayaan.”

Jejak Megawati di Zayed Award

Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama Presiden Timor Leste Ramos Horta di kompleks Istana Qasr Al Watan, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Rabu, 4 Februari 2026. DOK. PDIP

Zayed Award for Human Fraternity merupakan penghargaan internasional yang digagas pada 2019. Penghargaan ini terinspirasi dari penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb di Abu Dhabi.

Megawati memiliki hubungan khusus dengan penghargaan ini. Pada 2024, ia menjadi anggota dewan juri serta memperjuangkan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah hingga terpilih sebagai pemenang kategori organisasi kemasyarakatan. Kehadiran Megawati di Abu Dhabi menjadi simbol kesinambungan peran Indonesia dalam diplomasi perdamaian global.

Dalam kunjungan tersebut, Megawati bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan di Istana Qasr Al Watan. Pertemuan berlangsung sekitar satu jam dan membahas peluang kerja sama strategis, khususnya di bidang riset.

Sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati memaparkan potensi kerja sama penelitian di berbagai bidang, mulai dari pangan hingga keanekaragaman hayati. Dia juga menyoroti ketertarikannya pada teknologi desalinasi air laut yang telah maju di UEA. 

Diplomasi Hangat dan Momen Personal

Di sela agenda resmi, Megawati bertemu Presiden Timor Leste José Ramos-Horta yang kemudian mengundangnya ke Timor Leste. Bahkan Megawati sempat bercerita dan menanyakan kabar anak angkatnya yang kini menjadi Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, Kupa Lopez. 

Ketika berkunjung ke kantor Kedutaan Besar RI untuk UEA, Megawati menuliskan pesan dalam buku tamu Wisma Duta. «MERDEKA. Sebagai Bangsa Indonesia kita selalu harus punya keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran dalam membangun Negara kita tercinta. See also: pdf view. Karena perjuangan kita memerdekaan Indonesia sejati belum selesai!» tulisnya. (*)

💡 Puntos Clave

  • Este artículo cubre aspectos importantes sobre
  • Información verificada y traducida de fuente confiable
  • Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia

📚 Información de la Fuente

📰 Publicación: nasional.tempo.co
✍️ Autor:
📅 Fecha Original: 2026-02-08 10:51:00
🔗 Enlace: Ver artículo original

Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.

📬 ¿Te gustó este artículo?

Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.

💬 Dejar un comentario