📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1770886946
🔍 En este artículo:
INFO TEMPO – Pasar modal Indonesia mengalami ‘gempa’ pada akhir Januari 2026. Di tengah kepanikan pasar itu, terdapat narasi penenang di telinga investor: “Tenang tidak ada seorang pun yang tahu pasar akan jatuh. Ini adalah Black Swan Event.»
[–>
Bagi Praktisi Hukum, Perbankan, dan Kebijakan Publik, Jusak Kereh, menyebut peristiwa 28 Januari 2026 sebagai Black Swan atau kejadian langka yang mustahil diprediksi adalah sebuah bentuk penyangkalan intelektual. “Itu hanya eufemisme halus untuk mengatakan ini musibah alam, bukan kesalahan pengelolaan,” kata dia, Rabu, 11 Februari 2026.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Menurut dia, dalam teori ekonomi yang dipopulerkan Michele Wucker, binatang yang menabrak Pasar Modal Indonesia bukanlah Angsa Hitam, melainkan «Grey Rhino» (Badak Abu-abu). “Ini adalah ancaman besar yang sudah lama berdiri di ruang tamu kita, bernapas berat, dan siap menyeruduk,” kata dia mengistilahkan.
[–>
Sesungguhnya, kata Jusak, sebelumnya sudah terlihat tanda-tanda. Gejala trading halt serupa pernah terjadi pada Maret 2025, dipicu oleh sentimen dari eksternal. “Saat itu kita diberi kesempatan untuk berbenah, tapi kita memilih menutup mata dan berharap si Badak akan berbelok sendiri.”
Jusak melanjutkan, “kini, Badak itu sudah menyeruduk. Dan pertanyaan yang paling mengusik saya: Apakah benar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa tanggal 28 Januari 2026 akan menjadi hari penghakiman bagi IHSG?”
[–>
Menurut Jusak, tidak ada yang kebetulan di lantai bursa, apalagi jika kejadiannya berturut-turut dan sistematis. Jelang akhir Januari 2026, dinamika global juga bergerak cepat. Sinyal dari lembaga indeks internasional diikuti oleh respons pasar yang dipengaruhi analisis lembaga keuangan global dan lembaga pemeringkat.
Dalam sistem keuangan modern, ketiga aktor ini memainkan peran besar dalam membentuk persepsi risiko. Bagi investor global, indeks menjadi peta, opini menjadi kompas, dan peringkat kredit menjadi rambu-rambu. Ketika ketiganya bergerak dalam arah yang sama, arus dana pun mudah ikut berubah.
Jusak kemudian menganalisa kenapa pasar modal di Tanah Air begitu mudah terguncang. “Jawabannya ada pada struktur kepemilikan. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI pada awal 2026 menunjukkan bahwa kepemilikan asing pada saham yang beredar bebas (freefloat) mencapai 39,63 persen.
Angka ini menurut Jusak bukan sekadar statistik. “Ini adalah bukti bahwa kita bukan tuan rumah di rumah sendiri. Dana asing ini adalah «Hot Money«. Merekalah penentu arah angin. Kita, investor lokal, hanyalah penumpang di dalam bus yang sopirnya adalah orang asing,” tutur dia. Suka atau tidak suka, lanjut dia, ketika sang sopir memutuskan banting setir maka yang berada di kursi penumpang akan terlempar, suka atau tidak.
Untuk bisa tenang, maka menurut dia diperlukan sadar posisi. Info lengkap: hgtgdfgdtr11. “Sayangnya, postur tubuh ekonomi Indonesia di awal 2026 ini sedang tidak baik-baik saja,” kata dia. “Bayangkan sebuah rumah tangga yang berpenghasilan USD 5.000 – 5.500per tahun (masih terjebak di Middle Income Trap), namun memiliki tumpukan utang yang telah menembus angka psikologis Rp 9.000 Triliun—nyaris 40 persen dari total ekonomi (PDB) kita.”
Dia menambahkan, “Tahun ini, kita harus merogoh kocek Rp 599,44 Triliun hanya untuk membayar bunga utang—uang sewa yang hangus tanpa mengurangi pokok utang. Jika ditambah dengan cicilan pokok yang jatuh tempo senilai Rp 833 Triliun, maka total beban kewajiban kita mencapai Rp 1.432 Triliun.”
Sementara target pendapatan negara Rp 3.536 Triliun. Sedangkan cadangan devisa di kisaran USD 145 Miliar. “Terasa sangat tipis untuk menjadi benteng pertahanan melawan serangan spekulan mata uang global,” kata dia.
Dalam konteks global, dinamika geopolitik turut memberi lapisan kompleksitas tambahan. Persaingan ekonomi antara kekuatan besar dunia, terutama dalam isu rantai pasok dan investasi, berpotensi memengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang. Indonesia berada pada posisi strategis di tengah hubungan dagang dan investasi yang luas dengan berbagai pihak. Posisi ini memberi peluang, tetapi juga menuntut keseimbangan yang cermat agar tidak terjebak dalam tarik-menarik kepentingan global.
Pergerakan pasar pada awal Februari yang mulai membaik tentu menjadi sinyal positif. Namun, pemulihan jangka pendek sebaiknya tidak mengabaikan pelajaran dari gejolak yang baru saja terjadi. Dalam sejarah ekonomi, krisis sering berawal dari penurunan kepercayaan, diikuti oleh arus keluar modal, lalu merembet ke sektor riil. Adapun pada serangan terkoordinasi terhadap kredibilitas pasar Indonesia menurut Jusak bisa dibaca sebagai peringatan keras dari Barat.
Saat ini, kata Jusak, Indeks sudah merangkak naik. Namun, lanjut dia, mengutip Mark Twain, «Sejarah tidak mengulangi dirinya sendiri, tapi ia seringkali berima. Rima kehancuran ekonomi selalu sama: dimulai dari hilangnya kepercayaan asing, diikuti pelarian modal (capital flight), dan diakhiri dengan rontoknya sektor riil serta sengsaranya rakyat.”
Menurut dia, gunakan momen «pasar biru» ini bukan untuk euforia, tapi untuk memperbaiki genteng yang bocor. “Berhentilah menyangkal bahwa mendung itu ada. Si Badak Abu-abu (Grey Rhino) itu masih berdiri di halaman rumah kita, dan dia belum berencana untuk pergi,” kata dia. (*)
INFO TEMPO – Pasar modal Indonesia mengalami ‘gempa’ pada akhir Januari 2026. Di tengah kepanikan pasar itu, terdapat narasi penenang di telinga investor: “Tenang tidak ada seorang pun yang tahu pasar akan jatuh. Ini adalah Black Swan Event.»
[–>
Bagi Praktisi Hukum, Perbankan, dan Kebijakan Publik, Jusak Kereh, menyebut peristiwa 28 Januari 2026 sebagai Black Swan atau kejadian langka yang mustahil diprediksi adalah sebuah bentuk penyangkalan intelektual. “Itu hanya eufemisme halus untuk mengatakan ini musibah alam, bukan kesalahan pengelolaan,” kata dia, Rabu, 11 Februari 2026.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Menurut dia, dalam teori ekonomi yang dipopulerkan Michele Wucker, binatang yang menabrak Pasar Modal Indonesia bukanlah Angsa Hitam, melainkan «Grey Rhino» (Badak Abu-abu). “Ini adalah ancaman besar yang sudah lama berdiri di ruang tamu kita, bernapas berat, dan siap menyeruduk,” kata dia mengistilahkan.
[–>
Sesungguhnya, kata Jusak, sebelumnya sudah terlihat tanda-tanda. Gejala trading halt serupa pernah terjadi pada Maret 2025, dipicu oleh sentimen dari eksternal. “Saat itu kita diberi kesempatan untuk berbenah, tapi kita memilih menutup mata dan berharap si Badak akan berbelok sendiri.”
Jusak melanjutkan, “kini, Badak itu sudah menyeruduk. Dan pertanyaan yang paling mengusik saya: Apakah benar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa tanggal 28 Januari 2026 akan menjadi hari penghakiman bagi IHSG?”
[–>
Menurut Jusak, tidak ada yang kebetulan di lantai bursa, apalagi jika kejadiannya berturut-turut dan sistematis. Jelang akhir Januari 2026, dinamika global juga bergerak cepat. Sinyal dari lembaga indeks internasional diikuti oleh respons pasar yang dipengaruhi analisis lembaga keuangan global dan lembaga pemeringkat.
Dalam sistem keuangan modern, ketiga aktor ini memainkan peran besar dalam membentuk persepsi risiko. Bagi investor global, indeks menjadi peta, opini menjadi kompas, dan peringkat kredit menjadi rambu-rambu. Ketika ketiganya bergerak dalam arah yang sama, arus dana pun mudah ikut berubah.
Jusak kemudian menganalisa kenapa pasar modal di Tanah Air begitu mudah terguncang. “Jawabannya ada pada struktur kepemilikan. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI pada awal 2026 menunjukkan bahwa kepemilikan asing pada saham yang beredar bebas (freefloat) mencapai 39,63 persen.
Angka ini menurut Jusak bukan sekadar statistik. “Ini adalah bukti bahwa kita bukan tuan rumah di rumah sendiri. Dana asing ini adalah «Hot Money«. Merekalah penentu arah angin. Kita, investor lokal, hanyalah penumpang di dalam bus yang sopirnya adalah orang asing,” tutur dia. Suka atau tidak suka, lanjut dia, ketika sang sopir memutuskan banting setir maka yang berada di kursi penumpang akan terlempar, suka atau tidak.
Untuk bisa tenang, maka menurut dia diperlukan sadar posisi. Info lengkap: hgtgdfgdtr11. “Sayangnya, postur tubuh ekonomi Indonesia di awal 2026 ini sedang tidak baik-baik saja,” kata dia. “Bayangkan sebuah rumah tangga yang berpenghasilan USD 5.000 – 5.500per tahun (masih terjebak di Middle Income Trap), namun memiliki tumpukan utang yang telah menembus angka psikologis Rp 9.000 Triliun—nyaris 40 persen dari total ekonomi (PDB) kita.”
Dia menambahkan, “Tahun ini, kita harus merogoh kocek Rp 599,44 Triliun hanya untuk membayar bunga utang—uang sewa yang hangus tanpa mengurangi pokok utang. Jika ditambah dengan cicilan pokok yang jatuh tempo senilai Rp 833 Triliun, maka total beban kewajiban kita mencapai Rp 1.432 Triliun.”
Sementara target pendapatan negara Rp 3.536 Triliun. Sedangkan cadangan devisa di kisaran USD 145 Miliar. “Terasa sangat tipis untuk menjadi benteng pertahanan melawan serangan spekulan mata uang global,” kata dia.
Dalam konteks global, dinamika geopolitik turut memberi lapisan kompleksitas tambahan. Persaingan ekonomi antara kekuatan besar dunia, terutama dalam isu rantai pasok dan investasi, berpotensi memengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang. Indonesia berada pada posisi strategis di tengah hubungan dagang dan investasi yang luas dengan berbagai pihak. Posisi ini memberi peluang, tetapi juga menuntut keseimbangan yang cermat agar tidak terjebak dalam tarik-menarik kepentingan global.
Pergerakan pasar pada awal Februari yang mulai membaik tentu menjadi sinyal positif. Namun, pemulihan jangka pendek sebaiknya tidak mengabaikan pelajaran dari gejolak yang baru saja terjadi. Dalam sejarah ekonomi, krisis sering berawal dari penurunan kepercayaan, diikuti oleh arus keluar modal, lalu merembet ke sektor riil. Adapun pada serangan terkoordinasi terhadap kredibilitas pasar Indonesia menurut Jusak bisa dibaca sebagai peringatan keras dari Barat.
Saat ini, kata Jusak, Indeks sudah merangkak naik. Namun, lanjut dia, mengutip Mark Twain, «Sejarah tidak mengulangi dirinya sendiri, tapi ia seringkali berima. Rima kehancuran ekonomi selalu sama: dimulai dari hilangnya kepercayaan asing, diikuti pelarian modal (capital flight), dan diakhiri dengan rontoknya sektor riil serta sengsaranya rakyat.”
Menurut dia, gunakan momen «pasar biru» ini bukan untuk euforia, tapi untuk memperbaiki genteng yang bocor. “Berhentilah menyangkal bahwa mendung itu ada. Si Badak Abu-abu (Grey Rhino) itu masih berdiri di halaman rumah kita, dan dia belum berencana untuk pergi,” kata dia. (*)
💡 Puntos Clave
- Este artículo cubre aspectos importantes sobre
- Información verificada y traducida de fuente confiable
- Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia
📚 Información de la Fuente
| 📰 Publicación: | nasional.tempo.co |
| ✍️ Autor: | |
| 📅 Fecha Original: | 2026-02-12 08:48:00 |
| 🔗 Enlace: | Ver artículo original |
Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.
📬 ¿Te gustó este artículo?
Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.



