📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1777641859
🔍 En este artículo:
INFO TEMPO – Ika Puspitasari, yang akrab disapa Ning Ita mencatat sejarah sebagai wali kota perempuan pertama di Mojokerto, Jawa Timur. Ia pertama kali menjabat pada periode 2018–2025 dan kembali mendapat kepercayaan untuk memimpin kota tersebut pada periode 2025–2030.
[–>
Semangat Raden Ajeng Kartini masih terasa kuat dalam cara pandang Ning Ita dalam memimpin. Baginya nilai kesetaraan, ketulusan, dan keberpihakan pada masyarakat bukan sekadar wacana melainkan diwujudkan dalam kebijakan nyata yang inklusif dan berbasis data.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Di balik kepemimpinannya sebagai Wali Kota Mojokerto, Ning Ita memiliki satu prinsip sederhana yang menjadi fondasi dalam setiap langkahnya: ketulusan. Perempuan asli Mojokerto yang lahir pada 12 April 1979 ini meyakini, kepemimpinan bukanlah sekadar soal strategi atau kekuasaan, melainkan bagaimana menjalankan amanah dengan hati yang jujur dan niat yang bersih.
[–>
“Kalau kita bekerja dengan ketulusan, jalan itu akan terbuka dengan sendirinya,” katanya. Hal itu menjadi keyakinan yang terus ia pegang. Menurut Ning Ita, kepura-puraan hanya akan melelahkan, sementara ketulusan akan membimbing arah dan keputusan secara lebih alami.
Kepemimpinan Berbasis Data
[–>
Tentu ketulusan tidak bisa berdiri sendiri. Dalam praktiknya, Ning Ita juga dikenal sebagai pemimpin yang mengandalkan pendekatan berbasis data. Ia meyakini kebijakan yang tepat harus lahir dari pemahaman yang akurat terhadap kondisi masyarakat.
Data, kata Ning Ita, adalah potret nyata yang tidak bisa dimanipulasi. «Kami membuat kebijakan data driven policy. Data itu kan tidak berbohong. Data itu fakta atas apa yang ada di masyarakat,» ucap dia.
Melalui data, ia memetakan berbagai aspek penting mulai dari jumlah perempuan, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perempuan kepala keluarga, hingga komposisi usia produktif dan lansia. Dengan cara ini, setiap kebijakan yang dirancang menjadi lebih terarah, tepat sasaran, dan dapat diukur dampaknya, baik dalam peningkatan kesejahteraan maupun penurunan angka kemiskinan.
Ketegasannya dalam menjaga validitas data terlihat jelas saat menghadapi persoalan stunting di Mojokerto. Selama empat tahun berturut-turut, data survei menunjukkan tren kenaikan, berbanding terbalik dengan berbagai intervensi yang telah dilakukan pemerintah kota. Alih-alih menerima begitu saja, Ning Ita memilih untuk menelusuri lebih dalam.
Dia juga menghadirkan data riil melalui sistem kesehatan daerah bernama Gayatri, singkatan dari Gerbang Layanan Informasi Terpadu dan Terintegrasi yang memuat data pelayanan kesehatan, termasuk pendaftaran antrean Puskesmas, pelaporan PSN, pemantauan TBC, stunting, dan pengecekan kesehatan keluarga (family folder). “Kami mengajak berbagai pihak berdiskusi, menguji, bahkan memperdebatkan data yang ada. Bagi kami, kesalahan dalam membaca data bisa berujung pada kebijakan yang keliru,» kata Ning Ita.
Perjuangan itu tidak singkat. Butuh waktu hingga empat tahun sampai akhirnya data riil yang dimiliki Pemkot Mojokerto melalui Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM) diakui dan digunakan secara resmi, menggantikan metode survei sebelumnya. Hasilnya nyata, kota ini mengantongi dukungan anggaran sebesar Rp 6,3 miliar untuk penanganan stunting.
«Satu pelajaran penting yang saya pegang adalah konsistensi dan keteguhan,» ucapnya. “Keyakinan pada kebenaran harus diperjuangkan, bahkan ketika hasilnya tidak langsung terlihat.”
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Ning Ita juga menekankan pentingnya kolaborasi. Ia melibatkan lembaga statistik hingga akademisi untuk memastikan setiap kebijakan berdiri di atas fondasi yang kuat.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau biasa disapa Ning Ita memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas dan kelompok rentan pada Rabu, 4 Maret 2026. Dok. Pemkot Mojokerto
Digital Marketing Menjadi Primadona UMKM
Di bawah kepemimpinan Ning Ita, Pemerintah Kota Mojokerto turut memberikan perhatian besar pada pemberdayaan ekonomi, khususnya melalui UMKM yang mayoritas dijalankan oleh perempuan. «Saya melihat potensi besar dari ketekunan dan ketelitian perempuan dalam mengelola usaha. Karena itu di berbagai program pelatihan, pendampingan, hingga digitalisasi terus didorong,» ucap dia.
Melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), para pelaku UMKM dibekali kemampuan baru, terutama dalam pemasaran digital. Dari cara membuat akun hingga mengelola transaksi online, semuanya didampingi secara menyeluruh. Antusiasme tinggi terlihat dari kelas digital marketing yang hampir selalu penuh setiap harinya.
Penguatan sektor UMKM juga dilakukan melalui percepatan sertifikasi halal. Dari ribuan pelaku usaha makanan dan minuman, kini hanya tersisa sebagian kecil yang belum tersertifikasi dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat, sejalan dengan kebijakan nasional.
Pendidikan dan Kesempatan yang Setara di Dunia Kerja
Di bidang pendidikan, Ning Ita melihat fondasinya sudah cukup kuat. Dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi, akses pendidikan di Kota Mojokerto dinilai telah merata. «Tantangan berikutnya adalah memastikan perempuan dengan latar pendidikan yang baik mendapatkan kesempatan yang setara di dunia kerja,» ujarnya.
Ia pun menegaskan tidak ada lagi batasan bagi perempuan dalam memilih bidang karier. Saat ini, perempuan memiliki kapabilitas yang sama dan telah membuktikan diri mampu memimpin di berbagai sektor, termasuk menjadi pemimpin.
Ke depan, fokusnya akan bergeser pada inovasi dan keberlanjutan. Ia menyadari pentingnya menyiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan capaian yang telah dirintis.
Kepemimpinan Ning Ita menunjukkan semangat Kartini tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus hidup dalam kebijakan yang inklusif, berbasis data, dan berpihak kepada semua. Dari pemberdayaan ekonomi hingga pendidikan, dari ketulusan hingga kekuatan pada data, semuanya menjadi fondasi untuk membangun kota yang lebih adil dan setara.
Bagi Ning Ita, kepemimpinan juga bagaimana memastikan masa depan tetap berjalan di jalur yang benar. Dan di tengah segala kompleksitas itu, ia kembali pada prinsip awalnya, yakni ketulusan sebagai penunjuk arah yang tak pernah berubah. (*)
INFO TEMPO – Ika Puspitasari, yang akrab disapa Ning Ita mencatat sejarah sebagai wali kota perempuan pertama di Mojokerto, Jawa Timur. Ia pertama kali menjabat pada periode 2018–2025 dan kembali mendapat kepercayaan untuk memimpin kota tersebut pada periode 2025–2030.
[–>
Semangat Raden Ajeng Kartini masih terasa kuat dalam cara pandang Ning Ita dalam memimpin. Baginya nilai kesetaraan, ketulusan, dan keberpihakan pada masyarakat bukan sekadar wacana melainkan diwujudkan dalam kebijakan nyata yang inklusif dan berbasis data.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Di balik kepemimpinannya sebagai Wali Kota Mojokerto, Ning Ita memiliki satu prinsip sederhana yang menjadi fondasi dalam setiap langkahnya: ketulusan. Perempuan asli Mojokerto yang lahir pada 12 April 1979 ini meyakini, kepemimpinan bukanlah sekadar soal strategi atau kekuasaan, melainkan bagaimana menjalankan amanah dengan hati yang jujur dan niat yang bersih.
[–>
“Kalau kita bekerja dengan ketulusan, jalan itu akan terbuka dengan sendirinya,” katanya. Hal itu menjadi keyakinan yang terus ia pegang. Menurut Ning Ita, kepura-puraan hanya akan melelahkan, sementara ketulusan akan membimbing arah dan keputusan secara lebih alami.
Kepemimpinan Berbasis Data
[–>
Tentu ketulusan tidak bisa berdiri sendiri. Dalam praktiknya, Ning Ita juga dikenal sebagai pemimpin yang mengandalkan pendekatan berbasis data. Ia meyakini kebijakan yang tepat harus lahir dari pemahaman yang akurat terhadap kondisi masyarakat.
Data, kata Ning Ita, adalah potret nyata yang tidak bisa dimanipulasi. «Kami membuat kebijakan data driven policy. Data itu kan tidak berbohong. Data itu fakta atas apa yang ada di masyarakat,» ucap dia.
Melalui data, ia memetakan berbagai aspek penting mulai dari jumlah perempuan, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perempuan kepala keluarga, hingga komposisi usia produktif dan lansia. Dengan cara ini, setiap kebijakan yang dirancang menjadi lebih terarah, tepat sasaran, dan dapat diukur dampaknya, baik dalam peningkatan kesejahteraan maupun penurunan angka kemiskinan.
Ketegasannya dalam menjaga validitas data terlihat jelas saat menghadapi persoalan stunting di Mojokerto. Selama empat tahun berturut-turut, data survei menunjukkan tren kenaikan, berbanding terbalik dengan berbagai intervensi yang telah dilakukan pemerintah kota. Alih-alih menerima begitu saja, Ning Ita memilih untuk menelusuri lebih dalam.
Dia juga menghadirkan data riil melalui sistem kesehatan daerah bernama Gayatri, singkatan dari Gerbang Layanan Informasi Terpadu dan Terintegrasi yang memuat data pelayanan kesehatan, termasuk pendaftaran antrean Puskesmas, pelaporan PSN, pemantauan TBC, stunting, dan pengecekan kesehatan keluarga (family folder). “Kami mengajak berbagai pihak berdiskusi, menguji, bahkan memperdebatkan data yang ada. Bagi kami, kesalahan dalam membaca data bisa berujung pada kebijakan yang keliru,» kata Ning Ita.
Perjuangan itu tidak singkat. Butuh waktu hingga empat tahun sampai akhirnya data riil yang dimiliki Pemkot Mojokerto melalui Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM) diakui dan digunakan secara resmi, menggantikan metode survei sebelumnya. Hasilnya nyata, kota ini mengantongi dukungan anggaran sebesar Rp 6,3 miliar untuk penanganan stunting.
«Satu pelajaran penting yang saya pegang adalah konsistensi dan keteguhan,» ucapnya. “Keyakinan pada kebenaran harus diperjuangkan, bahkan ketika hasilnya tidak langsung terlihat.”
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Ning Ita juga menekankan pentingnya kolaborasi. Ia melibatkan lembaga statistik hingga akademisi untuk memastikan setiap kebijakan berdiri di atas fondasi yang kuat.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau biasa disapa Ning Ita memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas dan kelompok rentan pada Rabu, 4 Maret 2026. Dok. Pemkot Mojokerto
Digital Marketing Menjadi Primadona UMKM
Di bawah kepemimpinan Ning Ita, Pemerintah Kota Mojokerto turut memberikan perhatian besar pada pemberdayaan ekonomi, khususnya melalui UMKM yang mayoritas dijalankan oleh perempuan. «Saya melihat potensi besar dari ketekunan dan ketelitian perempuan dalam mengelola usaha. Karena itu di berbagai program pelatihan, pendampingan, hingga digitalisasi terus didorong,» ucap dia.
Melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), para pelaku UMKM dibekali kemampuan baru, terutama dalam pemasaran digital. Dari cara membuat akun hingga mengelola transaksi online, semuanya didampingi secara menyeluruh. Antusiasme tinggi terlihat dari kelas digital marketing yang hampir selalu penuh setiap harinya.
Penguatan sektor UMKM juga dilakukan melalui percepatan sertifikasi halal. Dari ribuan pelaku usaha makanan dan minuman, kini hanya tersisa sebagian kecil yang belum tersertifikasi dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat, sejalan dengan kebijakan nasional.
Pendidikan dan Kesempatan yang Setara di Dunia Kerja
Di bidang pendidikan, Ning Ita melihat fondasinya sudah cukup kuat. Dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi, akses pendidikan di Kota Mojokerto dinilai telah merata. «Tantangan berikutnya adalah memastikan perempuan dengan latar pendidikan yang baik mendapatkan kesempatan yang setara di dunia kerja,» ujarnya.
Ia pun menegaskan tidak ada lagi batasan bagi perempuan dalam memilih bidang karier. Saat ini, perempuan memiliki kapabilitas yang sama dan telah membuktikan diri mampu memimpin di berbagai sektor, termasuk menjadi pemimpin.
Ke depan, fokusnya akan bergeser pada inovasi dan keberlanjutan. Ia menyadari pentingnya menyiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan capaian yang telah dirintis.
Kepemimpinan Ning Ita menunjukkan semangat Kartini tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus hidup dalam kebijakan yang inklusif, berbasis data, dan berpihak kepada semua. Dari pemberdayaan ekonomi hingga pendidikan, dari ketulusan hingga kekuatan pada data, semuanya menjadi fondasi untuk membangun kota yang lebih adil dan setara.
Bagi Ning Ita, kepemimpinan juga bagaimana memastikan masa depan tetap berjalan di jalur yang benar. Dan di tengah segala kompleksitas itu, ia kembali pada prinsip awalnya, yakni ketulusan sebagai penunjuk arah yang tak pernah berubah. (*)
💡 Puntos Clave
- Este artículo cubre aspectos importantes sobre
- Información verificada y traducida de fuente confiable
- Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia
📚 Información de la Fuente
| 📰 Publicación: | nasional.tempo.co |
| ✍️ Autor: | |
| 📅 Fecha Original: | 2026-05-01 10:43:00 |
| 🔗 Enlace: | Ver artículo original |
Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.
📬 ¿Te gustó este artículo?
Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.



