Solok fue el más rápido en restaurar los campos de arroz después del desastre, los observadores de la Universidad de Andalas citaron cuatro factores clave

 |

📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1780542160

🔍 En este artículo:

INFO TEMPO – Kabupaten Solok menjadi daerah dengan progres rehabilitasi sawah tercepat di Sumatera Barat pascabanjir bandang Sumatra pada November 2025. Data Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mencatat hingga akhir Mei 2026 sekitar 1.484 hektare sawah rusak ringan dan sedang telah selesai direhabilitasi, atau 98 persen dari total kerusakan (sekitar 1.500 hektare). Adapun lahan yang sudah kembali ditanami seluas 1.354 hektare atau 91 persen, bahkan sebagian sudah masuk masa panen.

[–>

Menurut pakar antropologi pembangunan dan ekonomi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Nursyirwan Effendi, cepatnya pemulihan sawah di Solok berkat empat faktor.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Pertama, petani Solok memiliki semangat yang didorong kebutuhan mempertahankan kehidupan ekonomi. “Mereka sudah masuk dalam teori rational passion, petani yang rasional. Mereka tidak lagi membangun lahan pertanian untuk ekonomi subsisten, tetapi sudah untuk komersial,” kata Nursyirwan pada Tempo, Senin, 1 Juni 2026.

[–>

Rasionalitas itu terbentuk karena masyarakat desa di Sumatera Barat sejak lama terhubung dengan pasar. Karena itu, ketika sawah rusak akibat bencana, petani sadar sumber pendapatan mereka ikut terancam.

“Kebutuhan hidup tidak bisa berhenti. Sementara sumber pendapatan dari pertanian itu juga untuk memenuhi kebutuhan lain. Jadi motivasi rasional dan motivasi mempertahankan hidup itulah yang mendorong mereka cepat bertindak,” ujarnya.

[–>

Faktor kedua adalah budaya yang dipelihara turun-temurun. Ia menilai masyarakat Minangkabau cenderung memilih bergerak mandiri dibanding menunggu bantuan dari luar. “Jikapun berutang, itu bukan tanpa perhitungan. Mereka punya pandangan panjang soal eksistensi ekonomi mereka,” ucap profesor kelahiran 1964 ini.

Contoh keputusan berutang dilakukan Melati, anggota Kelompok Tani Sejuk dan Damai di Nagari Salayo. Ia memilih memperbaiki sawah lebih dulu sambil mencari biaya secara mandiri agar lahan miliknya bisa segera kembali ditanami.

Faktor ketiga yang mempercepat pemulihan adalah karakter sosial masyarakat Solok yang masih memelihara gotong royong di tingkat nagari. “Kita di Minang mengenal prinsip saciok bak ayam, sadantiang bak basi. Jadi mudah untuk mengumpulkan kebersamaan,” katanya.

Faktor keempat, berkat dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera yang bergerak mempercepat rehabilitasi sawah serta pencairan bantuan. “Kalau Sumatra Barat dan Solok cepat, artinya ada dorongan lebih, baik dari pemerintah daerah, pusat maupun anggota DPR RI-nya yang mempercepat realisasi,” ujarnya.

Semangat gotong royong ini juga dijalankan tim profesional yang terlibat langsung dalam proses Survei, Investigasi, dan Desain (SID) untuk sawah rusak ringan, sedang, dan berat di Solok.

Direktur Melber Konsultan, Fikri Aulia Rahman, mengisahkan timnya sudah bergerak sejak awal Januari 2026 meski belum ada kepastian kontrak maupun bayaran. «Waktu itu kami ikut mendampingi tim dari Kementerian Pertanian yang turun langsung ke lokasi terdampak. Kami bahkan belum tahu apakah pekerjaan ini akan memakai jasa konsultan atau tidak. Tapi begitu Dinas Pertanian Kabupaten Solok menghubungi dan meminta bantuan, kami langsung bergerak saja,» ujar Fikri.

Keputusan itu, menurut dia, didorong ikatan emosional sebagai anak nagari. «Melihat saudara-saudara kami terkena bencana, kami tidak memikirkan aspek biaya jasa profesional. Jadi kami kerja dulu saja,» katanya.

Melber Konsultan mendapat tugas memetakan lahan di Kecamatan Kubung seluas 226 hektare untuk sawah rusak ringan, ditambah sekitar 50 hektare kategori rusak sedang dan berat. Tim beranggotakan 11 orang itu bekerja secara manual tanpa bantuan drone atau pemetaan udara.

«Kami turun ke lapangan, memetakan wilayah, menetapkan poligon satu per satu. Setelah data terkumpul, kami olah, lalu buatkan desain poligon, proposal, dan RAB-nya. Setelah lengkap, baru kami serahkan ke dinas,» tutur Fikri.

Proses SID itu selesai dalam waktu sekitar satu bulan pada Februari 2026. Menurut Fikri, kecepatan itu menjadi pembeda Solok dengan sejumlah daerah lain. «Walaupun belum jelas apakah ada biaya, kami sudah jalan membantu. Di kabupaten lain, mungkin konsultan menunggu kepastian kontrak dulu,» ujarnya.

Pernyataan Fikri diperkuat Kepala Bidang PSP Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Safaitir, yang menyebut sinergi antara petani, pemilik alat berat, dan tenaga profesional menjadi penentu percepatan rehabilitasi. “Kuncinya pembagian tugas dan kerja sama dengan kelompok tani,” ujarnya. “Petani bersedia bekerja memodali dulu. Pemilik alat berat juga ada yang bersedia membantu lebih dahulu,” kata Safaitir.

Pola gotong royong itu terlihat di berbagai lokasi terdampak. Kelompok tani menjadi pusat koordinasi rehabilitasi. Penyuluh membantu pendataan dan verifikasi. Pemerintah daerah memfasilitasi pengajuan bantuan, sementara petani membersihkan lahan dan memperbaiki pematang sawah.

Model kerja tersebut membuat rehabilitasi sawah di Solok tidak sepenuhnya bergantung pada panjangnya proses birokrasi. Petani bergerak lebih dulu, masyarakat saling membantu, sementara pemerintah dan Satgas PRR mempercepat dukungan rehabilitasi.

Hasilnya mulai terlihat dalam waktu relatif singkat. Sawah yang sebelumnya tertutup pasir kini kembali ditanami, bahkan sebagian petani sudah menikmati panen perdana pascabencana. (*)

INFO TEMPO – Kabupaten Solok menjadi daerah dengan progres rehabilitasi sawah tercepat di Sumatera Barat pascabanjir bandang Sumatra pada November 2025. Data Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mencatat hingga akhir Mei 2026 sekitar 1.484 hektare sawah rusak ringan dan sedang telah selesai direhabilitasi, atau 98 persen dari total kerusakan (sekitar 1.500 hektare). Adapun lahan yang sudah kembali ditanami seluas 1.354 hektare atau 91 persen, bahkan sebagian sudah masuk masa panen.

[–>

Menurut pakar antropologi pembangunan dan ekonomi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Nursyirwan Effendi, cepatnya pemulihan sawah di Solok berkat empat faktor.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Pertama, petani Solok memiliki semangat yang didorong kebutuhan mempertahankan kehidupan ekonomi. “Mereka sudah masuk dalam teori rational passion, petani yang rasional. Mereka tidak lagi membangun lahan pertanian untuk ekonomi subsisten, tetapi sudah untuk komersial,” kata Nursyirwan pada Tempo, Senin, 1 Juni 2026.

[–>

Rasionalitas itu terbentuk karena masyarakat desa di Sumatera Barat sejak lama terhubung dengan pasar. Karena itu, ketika sawah rusak akibat bencana, petani sadar sumber pendapatan mereka ikut terancam.

“Kebutuhan hidup tidak bisa berhenti. Sementara sumber pendapatan dari pertanian itu juga untuk memenuhi kebutuhan lain. Jadi motivasi rasional dan motivasi mempertahankan hidup itulah yang mendorong mereka cepat bertindak,” ujarnya.

[–>

Faktor kedua adalah budaya yang dipelihara turun-temurun. Ia menilai masyarakat Minangkabau cenderung memilih bergerak mandiri dibanding menunggu bantuan dari luar. “Jikapun berutang, itu bukan tanpa perhitungan. Mereka punya pandangan panjang soal eksistensi ekonomi mereka,” ucap profesor kelahiran 1964 ini.

Contoh keputusan berutang dilakukan Melati, anggota Kelompok Tani Sejuk dan Damai di Nagari Salayo. Ia memilih memperbaiki sawah lebih dulu sambil mencari biaya secara mandiri agar lahan miliknya bisa segera kembali ditanami.

Faktor ketiga yang mempercepat pemulihan adalah karakter sosial masyarakat Solok yang masih memelihara gotong royong di tingkat nagari. “Kita di Minang mengenal prinsip saciok bak ayam, sadantiang bak basi. Jadi mudah untuk mengumpulkan kebersamaan,” katanya.

Faktor keempat, berkat dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera yang bergerak mempercepat rehabilitasi sawah serta pencairan bantuan. “Kalau Sumatra Barat dan Solok cepat, artinya ada dorongan lebih, baik dari pemerintah daerah, pusat maupun anggota DPR RI-nya yang mempercepat realisasi,” ujarnya.

Semangat gotong royong ini juga dijalankan tim profesional yang terlibat langsung dalam proses Survei, Investigasi, dan Desain (SID) untuk sawah rusak ringan, sedang, dan berat di Solok.

Direktur Melber Konsultan, Fikri Aulia Rahman, mengisahkan timnya sudah bergerak sejak awal Januari 2026 meski belum ada kepastian kontrak maupun bayaran. «Waktu itu kami ikut mendampingi tim dari Kementerian Pertanian yang turun langsung ke lokasi terdampak. Kami bahkan belum tahu apakah pekerjaan ini akan memakai jasa konsultan atau tidak. Tapi begitu Dinas Pertanian Kabupaten Solok menghubungi dan meminta bantuan, kami langsung bergerak saja,» ujar Fikri.

Keputusan itu, menurut dia, didorong ikatan emosional sebagai anak nagari. «Melihat saudara-saudara kami terkena bencana, kami tidak memikirkan aspek biaya jasa profesional. Jadi kami kerja dulu saja,» katanya.

Melber Konsultan mendapat tugas memetakan lahan di Kecamatan Kubung seluas 226 hektare untuk sawah rusak ringan, ditambah sekitar 50 hektare kategori rusak sedang dan berat. Tim beranggotakan 11 orang itu bekerja secara manual tanpa bantuan drone atau pemetaan udara.

«Kami turun ke lapangan, memetakan wilayah, menetapkan poligon satu per satu. Setelah data terkumpul, kami olah, lalu buatkan desain poligon, proposal, dan RAB-nya. Setelah lengkap, baru kami serahkan ke dinas,» tutur Fikri.

Proses SID itu selesai dalam waktu sekitar satu bulan pada Februari 2026. Menurut Fikri, kecepatan itu menjadi pembeda Solok dengan sejumlah daerah lain. «Walaupun belum jelas apakah ada biaya, kami sudah jalan membantu. Di kabupaten lain, mungkin konsultan menunggu kepastian kontrak dulu,» ujarnya.

Pernyataan Fikri diperkuat Kepala Bidang PSP Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Safaitir, yang menyebut sinergi antara petani, pemilik alat berat, dan tenaga profesional menjadi penentu percepatan rehabilitasi. “Kuncinya pembagian tugas dan kerja sama dengan kelompok tani,” ujarnya. “Petani bersedia bekerja memodali dulu. Pemilik alat berat juga ada yang bersedia membantu lebih dahulu,” kata Safaitir.

Pola gotong royong itu terlihat di berbagai lokasi terdampak. Kelompok tani menjadi pusat koordinasi rehabilitasi. Penyuluh membantu pendataan dan verifikasi. Pemerintah daerah memfasilitasi pengajuan bantuan, sementara petani membersihkan lahan dan memperbaiki pematang sawah.

Model kerja tersebut membuat rehabilitasi sawah di Solok tidak sepenuhnya bergantung pada panjangnya proses birokrasi. Petani bergerak lebih dulu, masyarakat saling membantu, sementara pemerintah dan Satgas PRR mempercepat dukungan rehabilitasi.

Hasilnya mulai terlihat dalam waktu relatif singkat. Sawah yang sebelumnya tertutup pasir kini kembali ditanami, bahkan sebagian petani sudah menikmati panen perdana pascabencana. (*)

💡 Puntos Clave

  • Este artículo cubre aspectos importantes sobre
  • Información verificada y traducida de fuente confiable
  • Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia

📚 Información de la Fuente

📰 Publicación: nasional.tempo.co
✍️ Autor:
📅 Fecha Original: 2026-06-04 02:49:00
🔗 Enlace: Ver artículo original

Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.

📬 ¿Te gustó este artículo?

Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.

💬 Dejar un comentario