Megawati se reúne con líderes de Timor Oriental, analiza la cooperación marítima y la formación de cuadros del partido

 |

📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1783710905

🔍 En este artículo:

INFO TEMPO – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menggelar agenda makan siang kerja sekaligus pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, di Palm Springs, Dili, pada Jumat, 10 Juli 2026. Perjumpaan kedua tokoh ini menghasilkan sejumlah komitmen strategis jangka panjang bagi masa depan generasi muda di kawasan.

[–>

Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Timor-Leste, Francisco Kalbuadi Lay. Dalam laporannya, Kalbuadi Lay menegaskan bahwa seluruh hidangan yang disajikan sengaja berupa makanan rumahan biasa guna mempertegas atmosfer kekeluargaan yang intim.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Ia juga mengapresiasi persiapan matang yang dilakukan sebelumnya oleh delegasi PDI Perjuangan yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto. Secara khusus, Kalbuadi Lay memuji gaya komunikasi Megawati yang dinamis dan berbobot.

[–>

«Banyak yang terkesan, Ibu Mega memegang catatan yang ringkas, namun poin-poin yang disampaikan sangat luas dan mendalam saat di podium. Kami berharap anak muda di Timor-Leste dapat belajar banyak dari ketokohan dua pemimpin besar, Ma Xanana dan Ibu Mega,» ujar Kalbuadi Lay.

Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, dalam pidato kehormatannya menyampaikan rasa hormat serta apresiasi atas kehadiran Megawati. Bagi Xanana, kehadiran Megawati di Dili adalah pengingat akan momen krusial yang paling membekas dalam hidupnya, yakni pada 20 Mei 2002, saat upacara pemulihan kemerdekaan Timor-Leste.

[–>

«Di hadapan ribuan rakyat Timor dan para pemimpin dunia seperti Kofi Annan dan Bill Clinton, kehadiran Anda (Megawati) kala itu mengubah momen kemerdekaan menjadi momen rekonsiliasi yang luar biasa,» ujar Xanana.

Xanana mengatakan, kehadiran Megawati pada 2002 menjadi pesan kuat kepada dunia bahwa kemerdekaan Timor-Leste bukanlah kehilangan bagi Indonesia, melainkan awal dari babak baru hubungan kedua negara. «Anda menunjukkan kepada dunia bahwa mantan pihak yang berseberangan dapat memilih jalan perdamaian dan martabat. Hari ini, Timor-Leste tidak memiliki sahabat yang lebih dekat daripada Indonesia,» katanya.

Xanana juga memberikan penghormatan tinggi kepada ayahanda Megawati, Proklamator RI Bung Karno. Xanana menilai Presiden Pertama RI itu merupakan pemimpin global yang berhasil menggerakkan solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika menentang kolonialisme demi menegakkan martabat manusia.

Sementara itu, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengawali pidatonya dengan menceritakan pengalamannya mengunjungi Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja pada pagi hari, di mana ia menyaksikan perkembangan Dili yang kini jauh lebih ramai dibanding masa lalu.

Suasana formal mencair saat Megawati melontarkan seloroh khasnya kepada Xanana mengenai masa lalu mereka sebagai tokoh pergerakan yang akrab dengan jeruji besi. Mengingat kedekatan personal mereka, keduanya bahkan sepakat menolak panggilan formal «Bapak» atau «Ibu», melainkan menyapa dengan «Maun Xanana» (Kak Xanana) dan «Mega».

Kepada anak-anak muda Timor-Leste yang hadir, Megawati bahkan meminta mereka memanggilnya «Mama».

«Saya sering menggoda Pak Xanana. Kalau beliau menyebut penjara sebagai ‘universitas tertutup’, saya bilang bapak masih kalah dengan bapak saya (Bung Karno). Pak Xanana di LP Cipinang selama 7 tahun, bapak saya total menjalani 22 tahun penjara dan dibuang 3 kali,» seloroh Megawati yang disambut tawa hadirin.

Namun, di balik kelakar tersebut, Megawati menekankan pentingnya makna keteguhan, keberanian, dan kesabaran revolusioner bagi seorang politisi dan pemimpin.

«Tanpa keyakinan, manusia bisa menjadi pengkhianat di tengah jalan hanya demi mencari keuntungan materi. Kita harus berusaha menjadikan jalan hidup kita bermakna,» kata Megawati.

Megawati juga memotivasi kaum perempuan agar tidak boleh kalah dalam debat maupun ruang-ruang strategis di jantung demokrasi.

Lebih lanjut, Megawati menjabarkan kerangka kerja sama konkret yang diusulkannya demi memperkuat fondasi hubungan kedua negara di masa yang akan datang.

Pertama, kata dia, adalah kerja sama maritim dan perubahan iklim via BRIN. Indonesia dan Timor-Leste sebagai sesama negara kepulauan menghadapi ancaman nyata perubahan iklim, termasuk gejala El Nino dan risiko kekeringan.

Megawati mengutus pakar kelautan yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan, Prof. Rokhmin Dahuri, untuk menyusun langkah antisipasi bersama.

Kedua, kajian nasionalisme komparatif via BPIP. Megawati melihat adanya benang merah pemikiran ideologis antara Bung Karno dan Xanana Gusmão yang sama-sama digerakkan oleh semangat pembebasan dari kolonialisme. Kerja sama ini penting untuk menumbuhkan kembali minat membaca buku fisik di kalangan generasi muda yang kini mulai tergerus arus digitalisasi.

Ketiga, kerja sama institusi kepartaian. Megawati menyatakan PDI Perjuangan membuka pintu lebar untuk berbagi pengalaman pelembagaan partai dan penguatan kaderisasi dengan partai politik di Timor-Leste, khususnya CNRT.

Mengingat PDI Perjuangan memiliki rekam jejak sistemik dengan standar kualifikasi ISO dan Sekolah Partai, kerja sama ini diharapkan mampu menggenjot kreativitas dan inisiatif kepemimpinan anak muda serta kader perempuan di parlemen.

Di akhir pidatonya, Megawati memberikan suntikan motivasi agar Timor-Leste tidak pernah merasa kecil dalam peta geopolitik. Ia mengusulkan agar semangat Dasasila Bandung dijadikan mekanisme tetap yang bisa diangkat secara formal saat Timor-Leste memegang posisi Keketuaan ASEAN pada 2029 mendatang.

«Masa depan itu kita yang menentukan, bukan orang lain,» kata Megawati, yang kemudian menutup pidatonya dengan pekik, «Merdeka! Merdeka! Merdeka!». (*)

INFO TEMPO – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menggelar agenda makan siang kerja sekaligus pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, di Palm Springs, Dili, pada Jumat, 10 Juli 2026. Perjumpaan kedua tokoh ini menghasilkan sejumlah komitmen strategis jangka panjang bagi masa depan generasi muda di kawasan.

[–>

Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Timor-Leste, Francisco Kalbuadi Lay. Dalam laporannya, Kalbuadi Lay menegaskan bahwa seluruh hidangan yang disajikan sengaja berupa makanan rumahan biasa guna mempertegas atmosfer kekeluargaan yang intim.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Ia juga mengapresiasi persiapan matang yang dilakukan sebelumnya oleh delegasi PDI Perjuangan yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto. Secara khusus, Kalbuadi Lay memuji gaya komunikasi Megawati yang dinamis dan berbobot.

[–>

«Banyak yang terkesan, Ibu Mega memegang catatan yang ringkas, namun poin-poin yang disampaikan sangat luas dan mendalam saat di podium. Kami berharap anak muda di Timor-Leste dapat belajar banyak dari ketokohan dua pemimpin besar, Ma Xanana dan Ibu Mega,» ujar Kalbuadi Lay.

Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, dalam pidato kehormatannya menyampaikan rasa hormat serta apresiasi atas kehadiran Megawati. Bagi Xanana, kehadiran Megawati di Dili adalah pengingat akan momen krusial yang paling membekas dalam hidupnya, yakni pada 20 Mei 2002, saat upacara pemulihan kemerdekaan Timor-Leste.

[–>

«Di hadapan ribuan rakyat Timor dan para pemimpin dunia seperti Kofi Annan dan Bill Clinton, kehadiran Anda (Megawati) kala itu mengubah momen kemerdekaan menjadi momen rekonsiliasi yang luar biasa,» ujar Xanana.

Xanana mengatakan, kehadiran Megawati pada 2002 menjadi pesan kuat kepada dunia bahwa kemerdekaan Timor-Leste bukanlah kehilangan bagi Indonesia, melainkan awal dari babak baru hubungan kedua negara. «Anda menunjukkan kepada dunia bahwa mantan pihak yang berseberangan dapat memilih jalan perdamaian dan martabat. Hari ini, Timor-Leste tidak memiliki sahabat yang lebih dekat daripada Indonesia,» katanya.

Xanana juga memberikan penghormatan tinggi kepada ayahanda Megawati, Proklamator RI Bung Karno. Xanana menilai Presiden Pertama RI itu merupakan pemimpin global yang berhasil menggerakkan solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika menentang kolonialisme demi menegakkan martabat manusia.

Sementara itu, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengawali pidatonya dengan menceritakan pengalamannya mengunjungi Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja pada pagi hari, di mana ia menyaksikan perkembangan Dili yang kini jauh lebih ramai dibanding masa lalu.

Suasana formal mencair saat Megawati melontarkan seloroh khasnya kepada Xanana mengenai masa lalu mereka sebagai tokoh pergerakan yang akrab dengan jeruji besi. Mengingat kedekatan personal mereka, keduanya bahkan sepakat menolak panggilan formal «Bapak» atau «Ibu», melainkan menyapa dengan «Maun Xanana» (Kak Xanana) dan «Mega».

Kepada anak-anak muda Timor-Leste yang hadir, Megawati bahkan meminta mereka memanggilnya «Mama».

«Saya sering menggoda Pak Xanana. Kalau beliau menyebut penjara sebagai ‘universitas tertutup’, saya bilang bapak masih kalah dengan bapak saya (Bung Karno). Pak Xanana di LP Cipinang selama 7 tahun, bapak saya total menjalani 22 tahun penjara dan dibuang 3 kali,» seloroh Megawati yang disambut tawa hadirin.

Namun, di balik kelakar tersebut, Megawati menekankan pentingnya makna keteguhan, keberanian, dan kesabaran revolusioner bagi seorang politisi dan pemimpin.

«Tanpa keyakinan, manusia bisa menjadi pengkhianat di tengah jalan hanya demi mencari keuntungan materi. Kita harus berusaha menjadikan jalan hidup kita bermakna,» kata Megawati.

Megawati juga memotivasi kaum perempuan agar tidak boleh kalah dalam debat maupun ruang-ruang strategis di jantung demokrasi.

Lebih lanjut, Megawati menjabarkan kerangka kerja sama konkret yang diusulkannya demi memperkuat fondasi hubungan kedua negara di masa yang akan datang.

Pertama, kata dia, adalah kerja sama maritim dan perubahan iklim via BRIN. Indonesia dan Timor-Leste sebagai sesama negara kepulauan menghadapi ancaman nyata perubahan iklim, termasuk gejala El Nino dan risiko kekeringan.

Megawati mengutus pakar kelautan yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan, Prof. Rokhmin Dahuri, untuk menyusun langkah antisipasi bersama.

Kedua, kajian nasionalisme komparatif via BPIP. Megawati melihat adanya benang merah pemikiran ideologis antara Bung Karno dan Xanana Gusmão yang sama-sama digerakkan oleh semangat pembebasan dari kolonialisme. Kerja sama ini penting untuk menumbuhkan kembali minat membaca buku fisik di kalangan generasi muda yang kini mulai tergerus arus digitalisasi.

Ketiga, kerja sama institusi kepartaian. Megawati menyatakan PDI Perjuangan membuka pintu lebar untuk berbagi pengalaman pelembagaan partai dan penguatan kaderisasi dengan partai politik di Timor-Leste, khususnya CNRT.

Mengingat PDI Perjuangan memiliki rekam jejak sistemik dengan standar kualifikasi ISO dan Sekolah Partai, kerja sama ini diharapkan mampu menggenjot kreativitas dan inisiatif kepemimpinan anak muda serta kader perempuan di parlemen.

Di akhir pidatonya, Megawati memberikan suntikan motivasi agar Timor-Leste tidak pernah merasa kecil dalam peta geopolitik. Ia mengusulkan agar semangat Dasasila Bandung dijadikan mekanisme tetap yang bisa diangkat secara formal saat Timor-Leste memegang posisi Keketuaan ASEAN pada 2029 mendatang.

«Masa depan itu kita yang menentukan, bukan orang lain,» kata Megawati, yang kemudian menutup pidatonya dengan pekik, «Merdeka! Merdeka! Merdeka!». (*)

💡 Puntos Clave

  • Este artículo cubre aspectos importantes sobre
  • Información verificada y traducida de fuente confiable
  • Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia

📚 Información de la Fuente

📰 Publicación: nasional.tempo.co
✍️ Autor:
📅 Fecha Original: 2026-07-10 13:44:00
🔗 Enlace: Ver artículo original

Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.

📬 ¿Te gustó este artículo?

Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.

💬 Dejar un comentario