Discurso de Prabowo en la Conferencia Nacional de NU: De la política de NU a los bajos salarios de los docentes

 |

📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1782281897

🔍 En este artículo:

PRESIDEN Prabowo Subianto berkunjung ke Jawa Timur pada Selasa, 23 Juni 2026. Prabowo bersama rombongan bertolak dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Kabupaten Sampang, Jawa Timur.

[–>

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Di sana, Prabowo meresmikan infrastruktur baru berupa ruas jalan sepanjang 1.151 kilometer. Proyek ini menjadi bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Jalan Daerah.

[–>

Prabowo kemudian melanjutkan kunjungan ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur untuk menghadiri penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026. Ketua Umum Partai Gerindra itu berpidato dalam forum yang digelar di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil.

Berikut sejumlah topik pidato yang disampaikan Prabowo.

[–>

1. Prabowo: Belajar Politik Harusnya dari Nahdlatul Ulama

Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan bahwa organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama alias NU harus dijadikan tempat belajar politik. Prabowo mulanya membuka sambutannya dengan menyapa jajaran pembantunya di Kabinet Merah Putih.

Hadir dalam agenda itu di antaranya Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi yang juga menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU. 

Kemudian, ada pula Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid serta Menteri Agama Nasaruddin Umar yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama. “Ini Kabinet Merah Putih ini banyak sekali NU-nya, ya,” ucap dia.

Ketua Umum Partai Gerindra itu lantas memuji kehebatan organisasi masyarakat keagamaan itu. Alasannya, kader NU berada di mana-mana. Prabowo berkelakar, semua pihak harus belajar politik dari NU.

“NU memang hebat. Selalu berada dimana-mana. Semua partai, NU hadir. Jadi NU enggak pernah kalah. Hebat. Kalo belajar politik sebetulnya harus dari NU,” tutur Prabowo sambil tertawa.

Adapun dalam sambutannya itu, Prabowo juga mengklaim selalu merasa nyaman berada di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. «Nyaman dan aman, merasa aman. Sambutan yang demikian besar kepada saya,» ucapnya. 

Kata Prabowo, ia mengenal NU sedari kecil. Prabowo menyebut sempat bertetangga dengan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, di Jakarta. Adapun Gus Dur merupakan cucu pendiri NU dan pernah memimpin organisasi itu pada 1984–1999. 

2. Prabowo: Gaji Guru Tak Membaik karena Kekayaan Negara Bocor

Presiden Prabowo Subianto mengklaim rendahnya gaji guru dan pegawai negeri disebabkan adanya kebocoran kekayaan negara. Prabowo menyatakan bahwa selama bertahun-tahun, kekayaan negara justru mengalir ke luar negeri dan tak memberikan manfaat bagi rakyat.

«Kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang. Ya, karena uangnya enggak ada, diambil terus,» katanya.

Dia menuturkan, polemik kesejahteraan guru dan aparatur negara tidak bisa dilepaskan dari kondisi keuangan negara. Dia mengklaim, berdasarkan perhitungan pemerintah, kas negara yang bocor mencapai sekitar US$ 150 miliar atau setara Rp 2.500 triliun setiap tahunnya.

Maka dari itu, Prabowo mengatakan berusaha memperbaiki kondisi ini dengan cara menutup berbagai celah hilangnya penerimaan negara.

Menurut dia, kebocoran kas negara dipicu oleh sejumlah faktor, salah satunya lantaran banyaknya perusahaan negara yang terus merugi tetapi tetap beroperasi. Prabowo menilai perusahaan-perusahaan pelat merah itu justru menjadi beban bagi keuangan negara.

Dia mengaku kaget ketika mengetahui bahwa jumlah badan usaha milik negara yang beroperasi selama ini mencapai 1.000 perusahaan. “Saya kira, perusahaan BUMN itu jumlahnya 300, waktu saya jadi Presiden, saya baru tahu jumlahnya seribu lebih,” tutur Prabowo.

Menurut Prabowo, selama sekitar 20 bulan menjabat, dirinya sudah menutup sekitar 240 perusahaan negara. Adapun secara total, dia menargetkan bakal menutup 700 hingga 800 perusahaan BUMN yang merugi.

Prabowo dalam kesempatan itu turut menyoroti praktik pelaporan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya alias under-invoicing oleh para pengusaha, yang dianggapnya juga menyebabkan kerugian negara.

«Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi. Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi US$ 908 miliar selama 34 tahun atau Rp 15.000 triliun,” klaim Prabowo.

3. Prabowo: Nahdlatul Ulama Faktor Stabilisator Bangsa Indonesia

Presiden Prabowo Subianto menyebut Nahdlatul Ulama sebagai faktor stabilisator bangsa Indonesia. Kepala Negara berujar, keluarga besar organisasi masyarakat Islam tersebut selalu hadir di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. 

Ia meyakini bahwa Nahdlatul Ulama berperan baik untuk bangsa dan negara. Menurut dia, para kiai dan ulama merupakan tokoh yang paling dekat dengan rakyat, terutama di pedesaan. 

“Karena itu, para kiai, para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah,” ujar Prabowo.

Prabowo pun turut memuji jiwa nasionalisme di tubuh NU. Bagi dia, komitmen kebangsaan NU sudah terlihat sejak sebelum kemerdekaan, salah satunya melalui lagu Syubbanul Wathon yang populer di kalangan Nahdliyin. 

“Nahdlatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta tanah air. Jadi agamis tapi nasionalis dan patriotik,” kata Prabowo.

Ervana Trikarinaputri berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

PRESIDEN Prabowo Subianto berkunjung ke Jawa Timur pada Selasa, 23 Juni 2026. Prabowo bersama rombongan bertolak dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Kabupaten Sampang, Jawa Timur.

[–>

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Di sana, Prabowo meresmikan infrastruktur baru berupa ruas jalan sepanjang 1.151 kilometer. Proyek ini menjadi bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Jalan Daerah.

[–>

Prabowo kemudian melanjutkan kunjungan ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur untuk menghadiri penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026. Ketua Umum Partai Gerindra itu berpidato dalam forum yang digelar di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil.

Berikut sejumlah topik pidato yang disampaikan Prabowo.

[–>

1. Prabowo: Belajar Politik Harusnya dari Nahdlatul Ulama

Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan bahwa organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama alias NU harus dijadikan tempat belajar politik. Prabowo mulanya membuka sambutannya dengan menyapa jajaran pembantunya di Kabinet Merah Putih.

Hadir dalam agenda itu di antaranya Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi yang juga menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU. 

Kemudian, ada pula Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid serta Menteri Agama Nasaruddin Umar yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama. “Ini Kabinet Merah Putih ini banyak sekali NU-nya, ya,” ucap dia.

Ketua Umum Partai Gerindra itu lantas memuji kehebatan organisasi masyarakat keagamaan itu. Alasannya, kader NU berada di mana-mana. Prabowo berkelakar, semua pihak harus belajar politik dari NU.

“NU memang hebat. Selalu berada dimana-mana. Semua partai, NU hadir. Jadi NU enggak pernah kalah. Hebat. Kalo belajar politik sebetulnya harus dari NU,” tutur Prabowo sambil tertawa.

Adapun dalam sambutannya itu, Prabowo juga mengklaim selalu merasa nyaman berada di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. «Nyaman dan aman, merasa aman. Sambutan yang demikian besar kepada saya,» ucapnya. 

Kata Prabowo, ia mengenal NU sedari kecil. Prabowo menyebut sempat bertetangga dengan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, di Jakarta. Adapun Gus Dur merupakan cucu pendiri NU dan pernah memimpin organisasi itu pada 1984–1999. 

2. Prabowo: Gaji Guru Tak Membaik karena Kekayaan Negara Bocor

Presiden Prabowo Subianto mengklaim rendahnya gaji guru dan pegawai negeri disebabkan adanya kebocoran kekayaan negara. Prabowo menyatakan bahwa selama bertahun-tahun, kekayaan negara justru mengalir ke luar negeri dan tak memberikan manfaat bagi rakyat.

«Kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang. Ya, karena uangnya enggak ada, diambil terus,» katanya.

Dia menuturkan, polemik kesejahteraan guru dan aparatur negara tidak bisa dilepaskan dari kondisi keuangan negara. Dia mengklaim, berdasarkan perhitungan pemerintah, kas negara yang bocor mencapai sekitar US$ 150 miliar atau setara Rp 2.500 triliun setiap tahunnya.

Maka dari itu, Prabowo mengatakan berusaha memperbaiki kondisi ini dengan cara menutup berbagai celah hilangnya penerimaan negara.

Menurut dia, kebocoran kas negara dipicu oleh sejumlah faktor, salah satunya lantaran banyaknya perusahaan negara yang terus merugi tetapi tetap beroperasi. Prabowo menilai perusahaan-perusahaan pelat merah itu justru menjadi beban bagi keuangan negara.

Dia mengaku kaget ketika mengetahui bahwa jumlah badan usaha milik negara yang beroperasi selama ini mencapai 1.000 perusahaan. “Saya kira, perusahaan BUMN itu jumlahnya 300, waktu saya jadi Presiden, saya baru tahu jumlahnya seribu lebih,” tutur Prabowo.

Menurut Prabowo, selama sekitar 20 bulan menjabat, dirinya sudah menutup sekitar 240 perusahaan negara. Adapun secara total, dia menargetkan bakal menutup 700 hingga 800 perusahaan BUMN yang merugi.

Prabowo dalam kesempatan itu turut menyoroti praktik pelaporan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya alias under-invoicing oleh para pengusaha, yang dianggapnya juga menyebabkan kerugian negara.

«Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi. Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi US$ 908 miliar selama 34 tahun atau Rp 15.000 triliun,” klaim Prabowo.

3. Prabowo: Nahdlatul Ulama Faktor Stabilisator Bangsa Indonesia

Presiden Prabowo Subianto menyebut Nahdlatul Ulama sebagai faktor stabilisator bangsa Indonesia. Kepala Negara berujar, keluarga besar organisasi masyarakat Islam tersebut selalu hadir di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. 

Ia meyakini bahwa Nahdlatul Ulama berperan baik untuk bangsa dan negara. Menurut dia, para kiai dan ulama merupakan tokoh yang paling dekat dengan rakyat, terutama di pedesaan. 

“Karena itu, para kiai, para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah,” ujar Prabowo.

Prabowo pun turut memuji jiwa nasionalisme di tubuh NU. Bagi dia, komitmen kebangsaan NU sudah terlihat sejak sebelum kemerdekaan, salah satunya melalui lagu Syubbanul Wathon yang populer di kalangan Nahdliyin. 

“Nahdlatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta tanah air. Jadi agamis tapi nasionalis dan patriotik,” kata Prabowo.

Ervana Trikarinaputri berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

💡 Puntos Clave

  • Este artículo cubre aspectos importantes sobre
  • Información verificada y traducida de fuente confiable
  • Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia

📚 Información de la Fuente

📰 Publicación: nasional.tempo.co
✍️ Autor:
📅 Fecha Original: 2026-06-24 04:26:00
🔗 Enlace: Ver artículo original

Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.

📬 ¿Te gustó este artículo?

Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.

💬 Dejar un comentario