📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1782368166
🔍 En este artículo:
INFO TEMPO – Universitas Indonesia (UI) memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, dan dunia industri untuk membangun ekosistem talenta yang mampu bersaing di tingkat global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Employer Forum 2026: Beyond Borders – The Next-Gen Talent Ecosystem for a World-Class Indonesia di Sutasoma Hotel, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juni 2026.
[–>
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Menurut dia, lulusan kampus harus dipandang sebagai aset bangsa yang mampu memperkuat posisi Indonesia di tingkat global, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam mendukung kepentingan diplomasi dan geopolitik.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Karena itu, Fauzan berharap UI dapat menjadi contoh dalam melahirkan talenta profesional yang mampu bersaing di kancah internasional. «Kampus perlu membangun kurikulum dan program yang lebih dekat dengan kebutuhan industri melalui kemitraan yang kuat dengan dunia usaha,» kata dia.
[–>
Pandangan tersebut sejalan dengan upaya UI memperkuat hubungan antara dunia akademik dan dunia kerja. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya UI Ahmad Gamal mengatakan Employer Forum menjadi ruang dialog strategis untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan proses pengembangan talenta di perguruan tinggi. Apalagi, kata dia, reputasi sebuah universitas kini tidak lagi ditentukan semata oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kualitas karier dan kontribusi yang diberikan para alumninya.
«Artinya, bagaimana lulusan berkarier dan berkontribusi setelah lulus turut menentukan bagaimana sebuah universitas dinilai secara global,» ucapnya.
[–>
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya Universitas Indonesia Ahmad Gamal menyampaikan paparan dalam Universitas Indonesia Employer Forum di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. Dok. TEMPO
Berdasarkan survei UI, sebanyak 71,3 persen lulusan memperoleh pekerjaan dalam waktu tiga bulan setelah menyelesaikan studi. Sementara itu, 28,3 persen di antaranya bekerja di perusahaan atau organisasi internasional. Meski demikian, Gamal menilai masih terdapat kesenjangan kompetensi, terutama pada aspek non teknis seperti kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, kolaborasi lintas budaya, dan integritas.
Untuk menyelesaikan tantangan tersebut, Gamal mengatakan perlu kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, alumni, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pentingnya kolaborasi lintas sektor juga menjadi perhatian para alumni yang telah berkiprah di tingkat global. Managing Director Global Relations & Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief mengatakan perkembangan teknologi dan digitalisasi telah menghapus banyak batas geografis dalam dunia kerja. Dengan begitu, UI dan perguruan tinggi lainnya perlu membangun ekosistem talenta yang terhubung secara global, sejalan dengan ambisi Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia pada 2045.
«Kita harus menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan dunia industri. Kesenjangan tersebut masih terlalu besar bagi Indonesia,» ujarnya.
Dalam forum tersebut, terdapat juga diskusi panel bertajuk «World-Class Indonesia» yang menghadirkan perwakilan dari sektor hukum, industri, kesehatan, dan teknologi untuk membahas kompetensi yang dibutuhkan talenta Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.
Dari sektor hukum, Partner dan Co-Founder Dentons HPRP Andra Rahadian menilai perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan lintas disiplin, kecakapan mengelola kompleksitas, serta kemampuan membangun kepercayaan. Sebab, menurut alumnus UI tersebut, spesialisasi bukan satu-satunya elemen yang paling bernilai di organisasi global.
«Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami berbagai kemungkinan dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian,» ujarnya.
Sementara itu, Corporate Affairs PT Fast Retailing Indonesia (Uniqlo Indonesia) Irma Yunita mengatakan perusahaan global tidak hanya mencari lulusan dengan prestasi akademik yang baik. Karakter, kemampuan belajar, kepemimpinan, adaptasi, dan kolaborasi justru menjadi aspek yang sangat diperhatikan.
Perusahaan global, kata dia, membutuhkan talenta yang memahami standar internasional sekaligus mampu membaca kebutuhan pasar dan budaya lokal. Hal tersebut menjadi penting karena perusahaan seperti Uniqlo tempatnya bekerja saat ini beroperasi di banyak negara dengan karakteristik pasar yang berbeda.
«Karakter, kemampuan belajar, kepemimpinan, kolaborasi, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi aspek yang sangat kami perhatikan,» ujarnya.
Dari sektor kesehatan, Dokter Spesialis Gizi Klinik Nadhira Afifa menekankan pentingnya keberanian mengambil peluang, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus berkembang. Ia menilai kualitas tersebut memungkinkan talenta Indonesia melampaui keterbatasan latar belakang dan mampu bersaing di tingkat global.
Pengalaman pribadinya menjadi contoh. Meski tumbuh di Bekasi Utara dengan akses yang terbatas, Nadhira berhasil menempuh pendidikan di UI hingga Harvard University. «Masuk ke sekolah atau universitas terbaik memang sesuatu yang baik. Namun itu bukan tujuan akhir. Itu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar,» ujarnya.
Kemudian, Enterprise and Public Sector Director Google Cloud Indonesia Adir Ginting menyoroti pentingnya kesiapan Indonesia menghadapi era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global apabila mampu melahirkan talenta yang tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan inovasi.
Hanya saja, Indonesia sering kali menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik seperti pusat data, jaringan internet, dan perangkat keras, tetapi juga menyangkut pola pikir serta kedisiplinan dalam memanfaatkan teknologi secara produktif.
Pada sektor teknologi, Enterprise and Public Sector Director Google Cloud Indonesia Adir Ginting berujar bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global, tetapi hal itu hanya bisa terwujud jika talenta Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan juga pencipta inovasi, khususnya di bidang kecerdasan buatan (AI).
«Perubahan teknologi bergerak secara eksponensial, sementara banyak sistem pendidikan masih berkembang secara linear,» ujarnya.
Dengan begitu, berbagai pandangan yang mengemuka dalam forum tersebut menegaskan bahwa memajukan Indonesia membutuhkan ekosistem talenta yang terhubung dengan kebutuhan global. Untuk itu, penguasaan kompetensi teknis perlu diimbangi dengan karakter, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi perubahan yang semakin cepat. (*)
INFO TEMPO – Universitas Indonesia (UI) memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, dan dunia industri untuk membangun ekosistem talenta yang mampu bersaing di tingkat global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Employer Forum 2026: Beyond Borders – The Next-Gen Talent Ecosystem for a World-Class Indonesia di Sutasoma Hotel, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juni 2026.
[–>
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Menurut dia, lulusan kampus harus dipandang sebagai aset bangsa yang mampu memperkuat posisi Indonesia di tingkat global, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam mendukung kepentingan diplomasi dan geopolitik.
Desplácese hacia abajo para continuar leyendo
Karena itu, Fauzan berharap UI dapat menjadi contoh dalam melahirkan talenta profesional yang mampu bersaing di kancah internasional. «Kampus perlu membangun kurikulum dan program yang lebih dekat dengan kebutuhan industri melalui kemitraan yang kuat dengan dunia usaha,» kata dia.
[–>
Pandangan tersebut sejalan dengan upaya UI memperkuat hubungan antara dunia akademik dan dunia kerja. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya UI Ahmad Gamal mengatakan Employer Forum menjadi ruang dialog strategis untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan proses pengembangan talenta di perguruan tinggi. Apalagi, kata dia, reputasi sebuah universitas kini tidak lagi ditentukan semata oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kualitas karier dan kontribusi yang diberikan para alumninya.
«Artinya, bagaimana lulusan berkarier dan berkontribusi setelah lulus turut menentukan bagaimana sebuah universitas dinilai secara global,» ucapnya.
[–>
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya Universitas Indonesia Ahmad Gamal menyampaikan paparan dalam Universitas Indonesia Employer Forum di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. Dok. TEMPO
Berdasarkan survei UI, sebanyak 71,3 persen lulusan memperoleh pekerjaan dalam waktu tiga bulan setelah menyelesaikan studi. Sementara itu, 28,3 persen di antaranya bekerja di perusahaan atau organisasi internasional. Meski demikian, Gamal menilai masih terdapat kesenjangan kompetensi, terutama pada aspek non teknis seperti kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, kolaborasi lintas budaya, dan integritas.
Untuk menyelesaikan tantangan tersebut, Gamal mengatakan perlu kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, alumni, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pentingnya kolaborasi lintas sektor juga menjadi perhatian para alumni yang telah berkiprah di tingkat global. Managing Director Global Relations & Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief mengatakan perkembangan teknologi dan digitalisasi telah menghapus banyak batas geografis dalam dunia kerja. Dengan begitu, UI dan perguruan tinggi lainnya perlu membangun ekosistem talenta yang terhubung secara global, sejalan dengan ambisi Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia pada 2045.
«Kita harus menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan dunia industri. Kesenjangan tersebut masih terlalu besar bagi Indonesia,» ujarnya.
Dalam forum tersebut, terdapat juga diskusi panel bertajuk «World-Class Indonesia» yang menghadirkan perwakilan dari sektor hukum, industri, kesehatan, dan teknologi untuk membahas kompetensi yang dibutuhkan talenta Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.
Dari sektor hukum, Partner dan Co-Founder Dentons HPRP Andra Rahadian menilai perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan lintas disiplin, kecakapan mengelola kompleksitas, serta kemampuan membangun kepercayaan. Sebab, menurut alumnus UI tersebut, spesialisasi bukan satu-satunya elemen yang paling bernilai di organisasi global.
«Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami berbagai kemungkinan dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian,» ujarnya.
Sementara itu, Corporate Affairs PT Fast Retailing Indonesia (Uniqlo Indonesia) Irma Yunita mengatakan perusahaan global tidak hanya mencari lulusan dengan prestasi akademik yang baik. Karakter, kemampuan belajar, kepemimpinan, adaptasi, dan kolaborasi justru menjadi aspek yang sangat diperhatikan.
Perusahaan global, kata dia, membutuhkan talenta yang memahami standar internasional sekaligus mampu membaca kebutuhan pasar dan budaya lokal. Hal tersebut menjadi penting karena perusahaan seperti Uniqlo tempatnya bekerja saat ini beroperasi di banyak negara dengan karakteristik pasar yang berbeda.
«Karakter, kemampuan belajar, kepemimpinan, kolaborasi, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi aspek yang sangat kami perhatikan,» ujarnya.
Dari sektor kesehatan, Dokter Spesialis Gizi Klinik Nadhira Afifa menekankan pentingnya keberanian mengambil peluang, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus berkembang. Ia menilai kualitas tersebut memungkinkan talenta Indonesia melampaui keterbatasan latar belakang dan mampu bersaing di tingkat global.
Pengalaman pribadinya menjadi contoh. Meski tumbuh di Bekasi Utara dengan akses yang terbatas, Nadhira berhasil menempuh pendidikan di UI hingga Harvard University. «Masuk ke sekolah atau universitas terbaik memang sesuatu yang baik. Namun itu bukan tujuan akhir. Itu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar,» ujarnya.
Kemudian, Enterprise and Public Sector Director Google Cloud Indonesia Adir Ginting menyoroti pentingnya kesiapan Indonesia menghadapi era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global apabila mampu melahirkan talenta yang tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan inovasi.
Hanya saja, Indonesia sering kali menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik seperti pusat data, jaringan internet, dan perangkat keras, tetapi juga menyangkut pola pikir serta kedisiplinan dalam memanfaatkan teknologi secara produktif.
Pada sektor teknologi, Enterprise and Public Sector Director Google Cloud Indonesia Adir Ginting berujar bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global, tetapi hal itu hanya bisa terwujud jika talenta Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan juga pencipta inovasi, khususnya di bidang kecerdasan buatan (AI).
«Perubahan teknologi bergerak secara eksponensial, sementara banyak sistem pendidikan masih berkembang secara linear,» ujarnya.
Dengan begitu, berbagai pandangan yang mengemuka dalam forum tersebut menegaskan bahwa memajukan Indonesia membutuhkan ekosistem talenta yang terhubung dengan kebutuhan global. Untuk itu, penguasaan kompetensi teknis perlu diimbangi dengan karakter, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi perubahan yang semakin cepat. (*)
💡 Puntos Clave
- Este artículo cubre aspectos importantes sobre
- Información verificada y traducida de fuente confiable
- Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia
📚 Información de la Fuente
| 📰 Publicación: | nasional.tempo.co |
| ✍️ Autor: | |
| 📅 Fecha Original: | 2026-06-25 06:06:00 |
| 🔗 Enlace: | Ver artículo original |
Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.
📬 ¿Te gustó este artículo?
Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.








