La LPDP sospecha que el marido de Dwi no ha pagado sus aportaciones posteriores a la Bolsa

 |

📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1779872255

🔍 En este artículo:

LEMBAGA Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengonfirmasi Prihantini sebagai salah satu alumni penerima beasiswa yang telah menyelesaikan studi pada 2022 silam. Nama Prihantini terseret sebagai terduga pelaku pemalsuan identitas dan riset dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

[–>

Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP M. Lukmanul Hakim mengatakan LPDP masih perlu mendalami dan menelaah informasi yang beredar, termasuk melakukan verifikasi data serta fakta yang relevan.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

“Berdasarkan pengecekan awal data internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022,” ujar Lukmanul melalui pesan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

[–>

Kemudian, LPDP juga akan menelaah lebih lanjut untuk memeriksa kepatuhan Prihantini terhadap kewajiban kontrak beasiswa melalui koordinasi dengan perguruan tinggi. Lukmanul menyatakan, hasil dari pendalaman itulah yang akan menjadi dasar bagi LPDP menentukan tindak lanjut berikutnya.

“LPDP mengapresiasi perhatian publik dan berkomitmen untuk terus menjaga akuntabilitas serta kehormatan komunitas akademik Indonesia di tingkat global,” ujar dia.

[–>

Mengenai dugaan manipulasi riset oleh Prihantini, LPDP menegaskan berkomitmen untuk menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, serta etika akademik. Lukmanul menyatakan, LPDP tidak mentoleransi apa pun bentuk pelanggaran kegiatan ilmiah.

Dugaan ini sebelumnya diungkap oleh epidemiolog Wa Ode Dwi Daningrat yang turut berpartisipasi dalam konferensi ilmiah itu, mewakili tim Oxford University. Menurut Dwi, ia menangkap basah perempuan bernama asli Prihantini mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo ketika mempresentasikan penelitian secara lisan di hari kedua untuk segmen poster spotlight.

Namun, sebelum Prihantini maju ke podium, ia melepas kartu nama yang bertuliskan Riana Dwi Kurniawati dan menggantinya dengan kartu nama Dimas Fajar Prasetyo yang diambil dari tas.

“Itu persis di depan mata saya, enggak ada sama sekali sekat. Mungkin mbaknya buru-buru jadi sudah tidak memperhatikan lagi orang di sekitarnya,” kata Dwi saat menceritakan ulang melalui panggilan video pada Selasa, 26 Mei 2026.

Di momen itu Dwi pun menanyakan langsung identitas Prihartini karena merasa janggal, mengapa sosok Dimas bukan seorang lelaki. Kecurigaannya tidak berkurang kala Prihartini mengakui dirinya sebagai Dimas.

Dugaan pemalsuan identitas makin diperkuat saat Prihartini ketahuan berganti jilbab kala memasuki ruang section 4 yang dihadiri oleh Dwi. Menurut pengamatan Dwi, Prihantini diduga melapisi jilbab merah dengan kerudung hitam.

Prihantini mengenakan kerudung hitam saat mempresentasikan penelitian berbeda di section 2 dengan mengaku sebagai Riana Dwi Kurniati. Jarak waktu presentasi dua segmen itu berselang 10 menit, kata Dwi. Menurut dia, nama Prihantini tidak tercantum sebagai penulis di abstrak penelitian maupun poster. Namun, nama Prihantini dan Rivaldy Fajar mendadak muncul di materi presentasi.

Setelah sesi presentasi, Dwi meminta Prihantini menjelaskan isi penelitian yang diklaim ditulis lima orang dengan nama Prihantini sebagai penulis utama, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Sa’adah, Riana Dwi Kurniati, dan Rivaldy Fajar selaku pemimpin tim. Dwi menilai Prihantini tidak mampu menjelaskan bagaimana abstrak maupun poster penelitian mereka tentang vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC).

Dwi mengatakan ia tidak bisa memastikan keaslian identitas Dimas, Aminatus, dan Riana karena tidak menemui mereka di lokasi. Sedangkan komunikasi dengan Rivaldy saat kejadian melalui panggilan video lewat telepon Prihartini. Setelah didesak oleh Dwi, Prihartini mengakui bahwa ia bukan Dimas maupun Riana sebagaimana pengakuannya di depan ilmuwan mancanegara yang mengikuti konferensi.

“Yang bikin saya sangat concern sekali sehingga saya melaporkan adalah hasil penelitian-penelitian mereka tentang vaksin sangat besar dan hasil-hasil penelitian mereka memang bombastis,” kata Dwi.

Menurut pengakuan Prihantini kepada Dwi, lima orang tersebut mengirimkan 19 judul abstrak dengan skala penelitian yang luas serta membutuhkan kerja sama (konsorsium) lintas negara. Misalnya lokasi penelitian yang tercantum di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, hingga Nepal tanpa adanya persetujuan etik maupun kolaborasi dengan peneliti setempat.

Dwi juga menilai abstrak dan poster mereka terindikasi berisi fabrikasi data dan ditulis dengan akal imitasi atau AI generated karena mustahil menghasilkan hasil penelitian sempurna tanpa disengaja. Dugaan sementara, Prihantini dan Kawan-kawannya ingin mendapatkan dana hadiah bepergian ke luar negeri untuk mengikuti konferensi (travel grants) tanpa benar-benar melakukan penelitian.

Dwi menuturkan, panitia ISPPD 2026 telah membatalkan fasilitas travel grants untuk kelompok Prihantini pada 21 Mei setelah kejadiannya dilaporkan pada 19 Mei 2026.

Kelompok riset Prihartini ditengari telah mengikuti konferensi lain seperti International Conference on Resource Sustainability 2025 di University of Adelaide, Australia, kemudian ajang Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, Jepang, hingga Asian Pacific Association for the Study of the Liver Single Topic Conference 2025 di Tokyo, Jepang.

Dugaan pemalsuan riset dan identitas ini telah disuarakan Dwi di media sosial bersama Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, yang sedang menjalani studi doktoral Matematika Iklim di Universitas Exeter. Dwi serta Mandhara berpendapat, tindakan Prihantini dan kawan-kawannya mencoreng integritas peneliti Indonesia di mata internasional.

Ida Bagus Mandhara Brasika mengatakan bahwa dugaan pemalsuan identitas dan riset merupakan pelanggaran etik berat di dunia akademik. Dia berharap apa yang diduga dilakukan Prihantini dan Rivaldy setidaknya mendapat sanksi sosial, karena belum ada sistem pelaporan pelanggaran akademik di Indonesia.

“Kejadian seperti ini sebenarnya cuma puncak gunung es. Dan karena tidak ada fasilitas ini makanya kami juga buat postingan itu ya, mungkin hanya ini yang bisa kami kasih, berupa tekanan sosial,” tutur Mandhara.

Tempo belum bisa menghubungi Prihantini dan Rivaldy Fajar lantaran media sosial keduanya menghilang setelah kasus ini viral. Namun, melalui akun Thread dan Instagram, Rifaldy sempat mengunggah konten yang menyebutkan ia sedang menyusun klarifikasi bersama peneliti lain. Konten yang diunggah pada Senin, 25 Mei kemarin itu juga lenyap lantaran Rifaldy menutup akunnya.

LEMBAGA Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengonfirmasi Prihantini sebagai salah satu alumni penerima beasiswa yang telah menyelesaikan studi pada 2022 silam. Nama Prihantini terseret sebagai terduga pelaku pemalsuan identitas dan riset dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

[–>

Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP M. Lukmanul Hakim mengatakan LPDP masih perlu mendalami dan menelaah informasi yang beredar, termasuk melakukan verifikasi data serta fakta yang relevan.

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

“Berdasarkan pengecekan awal data internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022,” ujar Lukmanul melalui pesan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

[–>

Kemudian, LPDP juga akan menelaah lebih lanjut untuk memeriksa kepatuhan Prihantini terhadap kewajiban kontrak beasiswa melalui koordinasi dengan perguruan tinggi. Lukmanul menyatakan, hasil dari pendalaman itulah yang akan menjadi dasar bagi LPDP menentukan tindak lanjut berikutnya.

“LPDP mengapresiasi perhatian publik dan berkomitmen untuk terus menjaga akuntabilitas serta kehormatan komunitas akademik Indonesia di tingkat global,” ujar dia.

[–>

Mengenai dugaan manipulasi riset oleh Prihantini, LPDP menegaskan berkomitmen untuk menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, serta etika akademik. Lukmanul menyatakan, LPDP tidak mentoleransi apa pun bentuk pelanggaran kegiatan ilmiah.

Dugaan ini sebelumnya diungkap oleh epidemiolog Wa Ode Dwi Daningrat yang turut berpartisipasi dalam konferensi ilmiah itu, mewakili tim Oxford University. Menurut Dwi, ia menangkap basah perempuan bernama asli Prihantini mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo ketika mempresentasikan penelitian secara lisan di hari kedua untuk segmen poster spotlight.

Namun, sebelum Prihantini maju ke podium, ia melepas kartu nama yang bertuliskan Riana Dwi Kurniawati dan menggantinya dengan kartu nama Dimas Fajar Prasetyo yang diambil dari tas.

“Itu persis di depan mata saya, enggak ada sama sekali sekat. Mungkin mbaknya buru-buru jadi sudah tidak memperhatikan lagi orang di sekitarnya,” kata Dwi saat menceritakan ulang melalui panggilan video pada Selasa, 26 Mei 2026.

Di momen itu Dwi pun menanyakan langsung identitas Prihartini karena merasa janggal, mengapa sosok Dimas bukan seorang lelaki. Kecurigaannya tidak berkurang kala Prihartini mengakui dirinya sebagai Dimas.

Dugaan pemalsuan identitas makin diperkuat saat Prihartini ketahuan berganti jilbab kala memasuki ruang section 4 yang dihadiri oleh Dwi. Menurut pengamatan Dwi, Prihantini diduga melapisi jilbab merah dengan kerudung hitam.

Prihantini mengenakan kerudung hitam saat mempresentasikan penelitian berbeda di section 2 dengan mengaku sebagai Riana Dwi Kurniati. Jarak waktu presentasi dua segmen itu berselang 10 menit, kata Dwi. Menurut dia, nama Prihantini tidak tercantum sebagai penulis di abstrak penelitian maupun poster. Namun, nama Prihantini dan Rivaldy Fajar mendadak muncul di materi presentasi.

Setelah sesi presentasi, Dwi meminta Prihantini menjelaskan isi penelitian yang diklaim ditulis lima orang dengan nama Prihantini sebagai penulis utama, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Sa’adah, Riana Dwi Kurniati, dan Rivaldy Fajar selaku pemimpin tim. Dwi menilai Prihantini tidak mampu menjelaskan bagaimana abstrak maupun poster penelitian mereka tentang vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC).

Dwi mengatakan ia tidak bisa memastikan keaslian identitas Dimas, Aminatus, dan Riana karena tidak menemui mereka di lokasi. Sedangkan komunikasi dengan Rivaldy saat kejadian melalui panggilan video lewat telepon Prihartini. Setelah didesak oleh Dwi, Prihartini mengakui bahwa ia bukan Dimas maupun Riana sebagaimana pengakuannya di depan ilmuwan mancanegara yang mengikuti konferensi.

“Yang bikin saya sangat concern sekali sehingga saya melaporkan adalah hasil penelitian-penelitian mereka tentang vaksin sangat besar dan hasil-hasil penelitian mereka memang bombastis,” kata Dwi.

Menurut pengakuan Prihantini kepada Dwi, lima orang tersebut mengirimkan 19 judul abstrak dengan skala penelitian yang luas serta membutuhkan kerja sama (konsorsium) lintas negara. Misalnya lokasi penelitian yang tercantum di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, hingga Nepal tanpa adanya persetujuan etik maupun kolaborasi dengan peneliti setempat.

Dwi juga menilai abstrak dan poster mereka terindikasi berisi fabrikasi data dan ditulis dengan akal imitasi atau AI generated karena mustahil menghasilkan hasil penelitian sempurna tanpa disengaja. Dugaan sementara, Prihantini dan Kawan-kawannya ingin mendapatkan dana hadiah bepergian ke luar negeri untuk mengikuti konferensi (travel grants) tanpa benar-benar melakukan penelitian.

Dwi menuturkan, panitia ISPPD 2026 telah membatalkan fasilitas travel grants untuk kelompok Prihantini pada 21 Mei setelah kejadiannya dilaporkan pada 19 Mei 2026.

Kelompok riset Prihartini ditengari telah mengikuti konferensi lain seperti International Conference on Resource Sustainability 2025 di University of Adelaide, Australia, kemudian ajang Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, Jepang, hingga Asian Pacific Association for the Study of the Liver Single Topic Conference 2025 di Tokyo, Jepang.

Dugaan pemalsuan riset dan identitas ini telah disuarakan Dwi di media sosial bersama Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, yang sedang menjalani studi doktoral Matematika Iklim di Universitas Exeter. Dwi serta Mandhara berpendapat, tindakan Prihantini dan kawan-kawannya mencoreng integritas peneliti Indonesia di mata internasional.

Ida Bagus Mandhara Brasika mengatakan bahwa dugaan pemalsuan identitas dan riset merupakan pelanggaran etik berat di dunia akademik. Dia berharap apa yang diduga dilakukan Prihantini dan Rivaldy setidaknya mendapat sanksi sosial, karena belum ada sistem pelaporan pelanggaran akademik di Indonesia.

“Kejadian seperti ini sebenarnya cuma puncak gunung es. Dan karena tidak ada fasilitas ini makanya kami juga buat postingan itu ya, mungkin hanya ini yang bisa kami kasih, berupa tekanan sosial,” tutur Mandhara.

Tempo belum bisa menghubungi Prihantini dan Rivaldy Fajar lantaran media sosial keduanya menghilang setelah kasus ini viral. Namun, melalui akun Thread dan Instagram, Rifaldy sempat mengunggah konten yang menyebutkan ia sedang menyusun klarifikasi bersama peneliti lain. Konten yang diunggah pada Senin, 25 Mei kemarin itu juga lenyap lantaran Rifaldy menutup akunnya.

💡 Puntos Clave

  • Este artículo cubre aspectos importantes sobre
  • Información verificada y traducida de fuente confiable
  • Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia

📚 Información de la Fuente

📰 Publicación: nasional.tempo.co
✍️ Autor:
📅 Fecha Original: 2026-05-27 03:43:00
🔗 Enlace: Ver artículo original

Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.

📬 ¿Te gustó este artículo?

Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.

💬 Dejar un comentario