ITB dijo sobre la tesis de Prihantini y la conferencia internacional

 |

📂 Categoría: | 📅 Fecha: 1780114654

🔍 En este artículo:

EKOSISTEM riset tanah air menuai sorotan setelah sejumlah warga negara Indonesia (WNI) diduga melakukan pemalsuan riset di konferensi internasional tentang pneumonia atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

[–>

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Dua nama yang diduga terlibat pelanggaran etik akademik di konferensi ilmiah pneumonia adalah Prihantini dan Rifaldy Fajar. Keduanya telah terkonfirmasi merupakan alumni Universitas Negeri Yogyakarta. Berikut sejumlah fakta dugaan pemalsuan riset internasional oleh sejumlah WNI:

[–>

Kronologi Kasus Pemalsuan Riset Terungkap

Dugaan pemalsuan riset ini pertama kali diungkap oleh epidemiolog, Wa Ode Dwi Daningrat, yang turut berpartisipasi dalam konferensi ilmiah itu, mewakili tim Oxford University. Menurut Dwi, ia menangkap basah perempuan bernama asli Prihantini  yang mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo, salah satu nama penulis yang tercantum dalam riset, ketika mempresentasikan penelitian secara lisan di hari kedua untuk segmen poster spotlight

[–>

Dwi melihat ketika Prihantini melepas kartu nama yang bertuliskan Riana Dwi Kurniawati dan menggantinya dengan kartu nama Dimas Fajar Prasetyo sesaat sebelum maju ke podium. “Itu persis di depan mata saya, enggak ada sama sekali sekat. Mungkin mbaknya buru-buru jadi sudah tidak memperhatikan lagi orang di sekitarnya,” kata Dwi saat menceritakan ulang melalui panggilan video pada Selasa, 26 Mei 2026.

Setelah sesi presentasi, Dwi meminta Prihantini menjelaskan isi penelitian yang diklaim ditulis lima orang dengan nama Prihantini sebagai penulis utama, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Sa’adah, Riana Dwi Kurniati, dan Rivaldy Fajar selaku pemimpin tim. Dwi menilai Prihantini tidak mampu menjelaskan bagaimana abstrak maupun poster penelitian mereka tentang vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC).

Setelah didesak oleh Dwi, Prihartini mengakui bahwa ia bukan Dimas maupun Riana sebagaimana pengakuannya di depan ilmuwan mancanegara yang mengikuti konferensi. Selain itu, abstrak dan poster mereka juga terindikasi berisi fabrikasi data dan ditulis dengan akal imitasi atau AI generated karena mustahil menghasilkan hasil penelitian sempurna tanpa disengaja. 

Dwi bersama Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, yang sedang menjalani studi doktoral Matematika Iklim di Universitas Exeter, lantas melaporkan dugaan tersebut kepada panitia ISPPD 2026 pada 19 Mei 2026.

Selanjutnya, pada 21 Mei 2026, panitia ISPPD membatalkan fasilitas sokongan dana perjalanan atau travel grant untuk kelompok Prihantini. Kasus ini menjadi viral usai Dwi dan Ida Bagus Mandhara Brasika membagikannya di media sosial mereka. 

Setelah melakukan konfrontasi kepada Prihatini, Dwi menduga Prihantini dan Kawan-kawannya ingin mendapatkan dana hadiah bepergian ke luar negeri untuk mengikuti konferensi tanpa benar-benar melakukan penelitian.

Kelompok riset Prihartini ditengarai telah mengikuti konferensi lain seperti International Conference on Resource Sustainability 2025 di University of Adelaide, Australia, kemudian ajang Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, Jepang, hingga Asian Pacific Association for the Study of the Liver Single Topic Conference 2025 di Tokyo, Jepang.

Pelaku Bukan Penelitif Aktif di Indonesia

Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan berdasarkan informasi awal Prihantini dan Rifaldy Fajar terindikasi bukan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi di Indonesia. Meski demikian, ia berujar Kementerian masih mendalami fakta-fakta yang terjadi, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia.

«Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,» kata Brian melalui pesan tertulis pada Rabu, 27 Mei 2026.

Pelaku Penerima Beasiswa LPDP

Kepala Hukum dan Komunikasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) M. Lukmanul Hakim mengkonfirmasi Prihantini sebagai salah satu alumni penerima beasiswa yang telah menyelesaikan studi pada 2022 silam. 

“Berdasarkan pengecekan awal data internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022,” ujar Lukmanul melalui pesan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto menyatakan  Prihantini dan Rifaldy Fajar terdaftar sebagai lulusan Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau MIPA UNY. «Dari penelusuran database kami, dua nama itu (Prihantini dan Rifaldy) memang benar merupakan alumni dari angkatan yang lulus 2017 dan 2018,» kata Nur, Rabu, 27 Mei 2026.

Hanya saja, kata Nur, pihaknya belum dapat memastikan, apakah tudingan pemalsuan riset yang dilayangkan kepada keduanya benar. Sehingga kampus juga belum bisa mengambil langkah.

Menurut Nur, sejak kasus itu viral awal pekan ini, baru Prihantini yang berhasil dihubungi pihak kampus. Prihantini disebut Nur akan memberi klarifikasi di akun media sosial pribadinya. Hanya saja, akun media sosial Prihantini belum dapat diakses semua.

Justru Rifaldy yang belum bisa dihubungi UNY diketahui sudah memberikan klarifikasinya melalui akun media sosialnya. «Klarifikasi (kasus pemalsuan riset) itu sebenarnya di akun media sosialnya Rifaldy. Kalau akun Prihantini tidak bisa diakses semua,» kata dia.

Kendala Proses Verifikasi

Menurut Nur, proses verifikasi ini menghadapi kendala teknis lantaran minimnya bukti visual pendukung yang beredar di publik. Institusi tidak bisa serta-merta mencocokkan wajah terduga pelaku dengan data foto yang dimiliki kampus. «Dua nama itu memang ada di database, tapi kami tidak tahu namanya itu kebetulan sama atau tidak karena tidak ada foto jelasnya,» ujar Nur.

Itu pula yang melatari kampus UNY belum bisa mengeluarkan keputusan resmi atau sanksi organisasi. Selain itu, UNY menyebut hingga kini belum menerima aduan formal dari pihak penyelenggara simposium internasional maupun otoritas terkait. 

Dian Rahma Fika dan Pribadi Wicaksono berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Buat Apa Prabowo Bolak-Balik ke Prancis

EKOSISTEM riset tanah air menuai sorotan setelah sejumlah warga negara Indonesia (WNI) diduga melakukan pemalsuan riset di konferensi internasional tentang pneumonia atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

[–>

Desplácese hacia abajo para continuar leyendo

Dua nama yang diduga terlibat pelanggaran etik akademik di konferensi ilmiah pneumonia adalah Prihantini dan Rifaldy Fajar. Keduanya telah terkonfirmasi merupakan alumni Universitas Negeri Yogyakarta. Berikut sejumlah fakta dugaan pemalsuan riset internasional oleh sejumlah WNI:

[–>

Kronologi Kasus Pemalsuan Riset Terungkap

Dugaan pemalsuan riset ini pertama kali diungkap oleh epidemiolog, Wa Ode Dwi Daningrat, yang turut berpartisipasi dalam konferensi ilmiah itu, mewakili tim Oxford University. Menurut Dwi, ia menangkap basah perempuan bernama asli Prihantini  yang mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo, salah satu nama penulis yang tercantum dalam riset, ketika mempresentasikan penelitian secara lisan di hari kedua untuk segmen poster spotlight

[–>

Dwi melihat ketika Prihantini melepas kartu nama yang bertuliskan Riana Dwi Kurniawati dan menggantinya dengan kartu nama Dimas Fajar Prasetyo sesaat sebelum maju ke podium. “Itu persis di depan mata saya, enggak ada sama sekali sekat. Mungkin mbaknya buru-buru jadi sudah tidak memperhatikan lagi orang di sekitarnya,” kata Dwi saat menceritakan ulang melalui panggilan video pada Selasa, 26 Mei 2026.

Setelah sesi presentasi, Dwi meminta Prihantini menjelaskan isi penelitian yang diklaim ditulis lima orang dengan nama Prihantini sebagai penulis utama, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Sa’adah, Riana Dwi Kurniati, dan Rivaldy Fajar selaku pemimpin tim. Dwi menilai Prihantini tidak mampu menjelaskan bagaimana abstrak maupun poster penelitian mereka tentang vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC).

Setelah didesak oleh Dwi, Prihartini mengakui bahwa ia bukan Dimas maupun Riana sebagaimana pengakuannya di depan ilmuwan mancanegara yang mengikuti konferensi. Selain itu, abstrak dan poster mereka juga terindikasi berisi fabrikasi data dan ditulis dengan akal imitasi atau AI generated karena mustahil menghasilkan hasil penelitian sempurna tanpa disengaja. 

Dwi bersama Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, yang sedang menjalani studi doktoral Matematika Iklim di Universitas Exeter, lantas melaporkan dugaan tersebut kepada panitia ISPPD 2026 pada 19 Mei 2026.

Selanjutnya, pada 21 Mei 2026, panitia ISPPD membatalkan fasilitas sokongan dana perjalanan atau travel grant untuk kelompok Prihantini. Kasus ini menjadi viral usai Dwi dan Ida Bagus Mandhara Brasika membagikannya di media sosial mereka. 

Setelah melakukan konfrontasi kepada Prihatini, Dwi menduga Prihantini dan Kawan-kawannya ingin mendapatkan dana hadiah bepergian ke luar negeri untuk mengikuti konferensi tanpa benar-benar melakukan penelitian.

Kelompok riset Prihartini ditengarai telah mengikuti konferensi lain seperti International Conference on Resource Sustainability 2025 di University of Adelaide, Australia, kemudian ajang Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, Jepang, hingga Asian Pacific Association for the Study of the Liver Single Topic Conference 2025 di Tokyo, Jepang.

Pelaku Bukan Penelitif Aktif di Indonesia

Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan berdasarkan informasi awal Prihantini dan Rifaldy Fajar terindikasi bukan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi di Indonesia. Meski demikian, ia berujar Kementerian masih mendalami fakta-fakta yang terjadi, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia.

«Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,» kata Brian melalui pesan tertulis pada Rabu, 27 Mei 2026.

Pelaku Penerima Beasiswa LPDP

Kepala Hukum dan Komunikasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) M. Lukmanul Hakim mengkonfirmasi Prihantini sebagai salah satu alumni penerima beasiswa yang telah menyelesaikan studi pada 2022 silam. 

“Berdasarkan pengecekan awal data internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022,” ujar Lukmanul melalui pesan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto menyatakan  Prihantini dan Rifaldy Fajar terdaftar sebagai lulusan Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau MIPA UNY. «Dari penelusuran database kami, dua nama itu (Prihantini dan Rifaldy) memang benar merupakan alumni dari angkatan yang lulus 2017 dan 2018,» kata Nur, Rabu, 27 Mei 2026.

Hanya saja, kata Nur, pihaknya belum dapat memastikan, apakah tudingan pemalsuan riset yang dilayangkan kepada keduanya benar. Sehingga kampus juga belum bisa mengambil langkah.

Menurut Nur, sejak kasus itu viral awal pekan ini, baru Prihantini yang berhasil dihubungi pihak kampus. Prihantini disebut Nur akan memberi klarifikasi di akun media sosial pribadinya. Hanya saja, akun media sosial Prihantini belum dapat diakses semua.

Justru Rifaldy yang belum bisa dihubungi UNY diketahui sudah memberikan klarifikasinya melalui akun media sosialnya. «Klarifikasi (kasus pemalsuan riset) itu sebenarnya di akun media sosialnya Rifaldy. Kalau akun Prihantini tidak bisa diakses semua,» kata dia.

Kendala Proses Verifikasi

Menurut Nur, proses verifikasi ini menghadapi kendala teknis lantaran minimnya bukti visual pendukung yang beredar di publik. Institusi tidak bisa serta-merta mencocokkan wajah terduga pelaku dengan data foto yang dimiliki kampus. «Dua nama itu memang ada di database, tapi kami tidak tahu namanya itu kebetulan sama atau tidak karena tidak ada foto jelasnya,» ujar Nur.

Itu pula yang melatari kampus UNY belum bisa mengeluarkan keputusan resmi atau sanksi organisasi. Selain itu, UNY menyebut hingga kini belum menerima aduan formal dari pihak penyelenggara simposium internasional maupun otoritas terkait. 

Dian Rahma Fika dan Pribadi Wicaksono berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Buat Apa Prabowo Bolak-Balik ke Prancis

💡 Puntos Clave

  • Este artículo cubre aspectos importantes sobre
  • Información verificada y traducida de fuente confiable
  • Contenido actualizado y relevante para nuestra audiencia

📚 Información de la Fuente

📰 Publicación: nasional.tempo.co
✍️ Autor:
📅 Fecha Original: 2026-05-30 03:59:00
🔗 Enlace: Ver artículo original

Nota de transparencia: Este artículo ha sido traducido y adaptado del inglés al español para facilitar su comprensión. El contenido se mantiene fiel a la fuente original, disponible en el enlace proporcionado arriba.

📬 ¿Te gustó este artículo?

Tu opinión es importante para nosotros. Comparte tus comentarios o suscríbete para recibir más contenido histórico de calidad.

💬 Dejar un comentario